(Doc. Pribadi)

Oleh: alfin arma

     Tampak sebuah bangun yang berbeda dari sisi samping utara masjid tua itu. Seperti monumen berbentuk persegi, yang telah dibalut dengan keramik di sisi samping kanan dan kiri.

    Membuat banyak orang termasuk diriku secara pribadi, bertanya-tanya dalam benak ini. Apa sesungguhnya nama, serta fungsi dari bangun berbentuk seperti balok persegi ini. 


(Doc. Pribadi)

     Rupanya, inilah yang dinamakan dengan jam matahari (bencet) istilah populernya dalam masyarakat. Keberadaannya sendiri kurang lebih sudah ada sejak tahun 1972 M/ 1392 H. Karena tepat di atas jarum jam yang terbuat dari unsur tembaga, masih terukir dengan jelas tahun pembuatannya.

     Kendati angka tahun ini dapat dibilang masih belum terlalu lama, lebih-lebih jika dibandingkan dengan tahun dibangunnya masjid itu sendiri.

     Sebagaimana banyak dituturkan oleh masyarakat sekitar (Dukuh Pringo, Ngantru), lebih lanjut apa yang disampaikan oleh beberapa pengurus takmir Masjid Pringo, H. Kholiq & H. Ghufron Ashari:

"Jam bencet (matahari) iku peninggalane alm. K.H. Mahfudz mas. Kurang lebih dibangun sekitar tahun 1972an."

     Lebih lengkapnya, sebagaimana yang beliau sampaikan dalam sebuah obrolan santai denganku saat itu:

"Biyen pas jik durung usum jam dinding, digital, luwih" aplikasi modern hp koyok jaman sak iki. Lek ngge ndelok wektu yo gawe jam bencet iku. Luwih-luwih pas waktu Dhuhur (sholat Jum'at), patok'ane yo jam iku."

     Betapa canggih, modern, dan majunya pemikiran para tokoh, serta peradaban Islam Nusantara pada masa itu.

     Sudah pasti beliau-beliau pada masanya sangat paham betul dengan ilmu keIslaman, khususnya ilmu falak (perbintangan). Dengan muncul dan dibuatnya jam matahari itu sendiri, pastilah sangat membantu umat muslim pada era itu perihal akurasi penetapan masuknya waktu sholat. Secara khusus, pada saat-saat sinar matahari masih terpancar mengitari bumi.

     Namun di sisi lain, sudah pasti tergambar dengan begitu jelas di benak kita semua, bagaimana keterbatasan menentukan masuknya waktu Isya', Subuh, atau waktu Imsak pada masa itu. Berbeda halnya dengan zaman sekarang, apa-apa yang sudah serba canggih. Dan aplikasi pengingat masuknya waktu sholat pun, juga serba modern.

     Sekali lagi, yang tak boleh dilupa adalah berkaitan keberadaan jam bencet dan tingkat keakurasian waktu yang ditunjukkannya. Mengingat, keberadaan jam ini untuk menentukan waktu adalah dengan berdasarkan pada sinar matahari.

     Mekanisme sederhana terkait dengan cara kerja jam ini adalah dengan memanfaatkan keberadaan sinar matahari. Dengan bantuan jarum yang berada di tengah cekungan jam (secara horizontal), yang kemudian dengan bantuan sinar matahari terciptalah bayang-bayang dari jarum jam tersebut, yang kemudian menujukkan pukul/waktu.

    Seiring dengan bergesernya posisi matahari, diikuti pula dengan berubahnya bayang-bayang jarum yang menunjukkan pukul berapa. Di samping itu, posisi dari jam bencet itu sendiri juga menentukan keakurasian arah mata angin yang sejati. Dengannya pula, arah kiblat untuk sholat juga dapat dilihat. 

     Andaikata dalam sebuah peristiwa terjadi bencana gempa, dan tidak terjadi pergeseran lempeng bumi (tanah) secara signifikan, selama itu pula tingkat keakuratan jam bencet ini tidak perlu dipertanyakan.

     Dalam hal lain, seandainya terjadi perubahan musim atau letak arah matahari, selama itu pula waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam tersebut juga akan berubah mengikuti keberadaan matahari. Mungkin sebagaimana waktu maju, atau mundurnya jadwal sholat.

     Sebagaimana mudahnya, waktu maghrib yang kadang masih tampak cerah sekali seperti masih memasuki pukul 17.00an, atau sebaliknya yang sudah terlihat cukup gelap walaupun masih dikisaran pukul 17.00an lebih sedikit.

     Kendati perkembangan dan kemajuan teknologi di era sekarang sudah begitu canggih dan modern, namun sebagai salah satu bentuk peninggalan sejarah dan simbol peradaban Islam Nusantara pada masanya, sudah selayaknya untuk senantiasa dirawat dan dijaga dengan sebaik mungkin oleh generasi saat ini. Lebih-lebih, juga masih bisa digunakan sebagai patokan telah masuknya waktu.

Tulungagung, 20/08/2020.