Oleh: alfin arma
Dalam aspek kehidupan sehari-hari manusia, rasanya tidak pernah terlepas dari bahan atau perabotan yang terbuat dari unsur kayu. Entah sebagai perabotan pelengkap dalam rumah tangga, bangunan, kertas, tissue, sampai unsur terkecil seperti batang korek api.
Pemanfaatan kayu memang dapat dikatakan cukup melekat pada setiap aspek kehidupan manusia. Karena dapat diolah dan dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan, di samping memiliki nilai prestise tersendiri bagi seseorang.
Jika sejenak saja kita flashback ke zaman dahulu, masa di mana kayu masih dengan begitu mudahnya didapatkan dari hutan. Sebagaimana mudahnya rumah adat orang Jawa, Kalimantan, Sumatera, atau pulau lainnya, tak terkecuali wilayah Papua.
Dengan begitu mudahnya, kita menjumpai pemanfaatan kayu sebagai unsur utama dalam pembuatan suatu hunian. Gebyok ukir, tiang, rangka atap, dinding, lantai, bahkan atap utama rumah, yang semua itu terbuat dari unsur kayu.
(Sumber: https://www.tokogebyok.co.id/2018/04/pintu-gebyok-ukir-jepara-ukuran-4-meter.html?m=1)
Gebyok ukir sebagai salah satu ciri khas rumah adat orang Jawa pada masanya. Selain bernilai seni yang tinggi dalam setiap pahat ukiran, juga dinilai sebagai sebuah kehormatan dan mencerminkan kasta sosial tersendiri bagi pemiliknya.
Masa penjajahan Belanda yang dapat dibilang tidak singkat di Indonesia. Selain ingin menguasai kekayaan alam berupa rempah-rempah, hasil pertanian, perkebunan, pertambangan, juga termasuk hasil hutan, di samping kekayaan sumber daya alam lainnya yang terdapat di Indonesia. Dengan alasan itulah sebagai salah satunya, maka masyarakat Jawa menggunakan kayu sebagai gebyok ukir untuk menunjukkan kasta sosial mereka di hadapan kolonial Belanda. Selain, dengan maksud lain agar kekayaan hasil hutan berupa kayu tidak diambil dan dikuasai oleh pihak sekutu.
Terlepas dari aspek lainnya, atau filosofi tersendiri dalam masyarakat adat luar Jawa. Pada intinya, unsur kayu memang sudah sangat begitu melekat dalam berbagai bidang kehidupan. Lebih-lebih, pada masyarakat adat yang masih benar-benar menetap di dalam hutan. Mengingat, ragam pepohonan masih begitu banyak dan mudah ditemukan.
Lain halnya dengan masyarakat di era sekarang. Utamanya mereka yang tinggal dan menetap di kawasan kota. Perlahan, tampaknya mereka mulai beralih pada perabotan rumah tangga yang berasal dari unsur plastik, besi, aluminium, atau bahan lainnya. Selain dinilai lebih awet untuk digunakan, lebih terjangkau, atau utamanya karena jumlah pepohonan besar sudah sangat begitu sulit untuk diketemukan. Artinya, sumber utama kayu sudah begitu banyak berkurang.
Tak perlu jauh dan melulu di kota. Di kawasan pedesaan saja sepertinya jumlah pepohonan sudah begitu banyak berkurang. Entah karena terdampak pembangunan, atau memang sengaja ditebang dan dijual guna menggerakkan roda perekonomian.
Di samping itu, trend industri papan tripleks yang sudah mulai masuk ke sudut pedesaan. Membuat masyarakat berbondong-bondong untuk mengubah lahan hutan pribadi (tanaman kayu tahun), menjadi hutan sengon. Apakah kayu sengon tidak memerlukan waktu yang lama untuk memanennya? Tidak juga sebenarnya.
Kendati demikian, tanaman kayu sengon juga membutuhkan waktu hitungan tahun untuk dapat memanennya. Paling cepat di kisaran 4-5 tahun lamanya. Itupun seandainya tanahnya agak gersang dan kurang perawatan, kayunya juga tidak dapat tumbuh dengan bagus, tinggi, dan lurus. Setidaknya, jika dibandingkan dengan tanaman kayu tahun lain seperti: Wadang, Sono, Mahoni, Salam, Meranti, Balau, atau lebih-lebih kayu Jati.
Kayu Sengon dinilai lebih singkat jangka panennya, lebih menjanjikan karena bernilai ekonomi. Banyak yang cari, dengan alasan lain karena untuk pemenuhan aspek industri. Tidak dengan Sono, atau lebih-lebih Jati. Selain dinilai sangat lama jangka panennya, harganya juga selangit. Artinya, hanya kalangan tertentu saja yang sanggup untuk membelinya.
Dengan berbagai pertimbangan, khususnya aspek keuangan, akhirnya masyarakat mulai beralih pikiran untuk lebih baiknya menanam kayu sengon laut saja. Atau, seandainya tidak punya lahan (hutan pribadi), beralih saja pada penggunaan bahan perlengkapan bangunan atau perabotan yang tidak menggunakan unsur kayu. Atau dengan inovasi tertentu, memanfaatkan dan mendaur ulang kembali barang bekas menjadi barang siap pakai. Di samping upaya lain guna menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Seandainya boleh memilih, antara penggunaan bahan bangunan, atau perabotan yang terbuat dari unsur plastik, besi/baja ringan, aluminium, kayu, sepertinya aku pribadi lebih memilih untuk menggunakan kayu. Lebih-lebih kayu jati sebagai permisalannya. Dari unsur alamnya, estetikanya, menyita perhatian banyak pasang mata.
Akan tetapi, sisi penting lainnya tidak boleh serta-merta melupakan aspek kelestarian lingkungan hidup yang ada. Mudahnya demikian. Jika seseorang ingin menggunakan bahan bangunan, atau perabotan rumah tangga yang berunsur dari kayu, khususnya. Coba untuk berpikir berulang kali kembali. Entah karena budget yang harus dikeluarkan. Mendukung program kelestarian lingkungan kah atau tidak. Atau pertimbangkan aspek penting lainnya.
Seandainya di rumah punya sedikit lahan kosong yang sekiranya cukup aman dari perumahan, kandang ternak, atau gedung bangunan, coba setidaknya untuk ditanami pepohonan. Entah itu buah-buahan, atau tanaman kayu tahun.
Jika memang ingin sekali membuat, atau membeli perlengkapan yang terbuat dari unsur kayu. Setidaknya, sudah sedikit memberikan kontribusi nyata untuk membantu program penghijauan dan pelestarian lingkungan. Jangan hanya paham tentang bagaimana arti untuk menikmati, tanpa pernah sekali saja memberikan kontribusi.
Bagaimanapun, 1 batang pohon jati masih jauh lebih berharga ketimbang 10 batang pohon sengon. 1 orang yang berilmu masih jauh berharga dari pada 100 atau bahkan 1000 orang yang tidak berilmu. Begitupun dengan kata konsistensi. Sekecil apapun kebaikan yang diperbuat secara konsisten, masih jauh lebih bermanfaat dari pada banyak kebaikan, namun jarang.
Akhir kata, semoga ada sedikit manfaat dan pesan tersampaikan bagi siapapun pembacanya. Sekian dan sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Wassalam.
Tulungagung, 02 September 2020.



0 Comments