Puasa menahan segalanya. 

Berpuasa itu memang tidak semudah sekadar menahan lapar dan dahaga. Berpuasa berarti menahan segalanya, amarah, menahan pandangan, syahwat, iri-dengki, dan sifat yang kurang baik lainnya. Jika hanya menahan lapar dan dahaga, itu hanya puasa dhahir semata. Akan tetapi, menahan bathin tidak semudah menahan dhahir. 

Berpuasa adalah perkara yang memang sekali lagi membutuhkan latihan yang serius, membutuhkan latihan dari segalanya. Membutuhkan sumber ketenangan bathin, membutuhkan kesadaran dan kekuatan dhahir. Ada mereka yang masih muda dan kuat secara dhahir, namun tidak menjalankannya. Ada mereka yang sudah renta, namun tetap semangat melaksanakannya. 

Jika kita lihat esensi daripada puasa, memang ibadah puasa ini adalah salah satu hal yang amat istimewa. Puasa adalah ibadah privat seorang hamba kepada Tuhannya. Ibadah yang sekali lagi hanya untuk Allah semata. 

Jika melihat begitu besarnya pahala yang Tuhan janjikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman, setiap hamba yang jujur dan setia pada perintah agama. Sebagaimana lirik lagu Bimbo, "Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa?"
Mudahnya puasa ini memang sebagai sarana melatih jiwa sekaligus raga, agar mukmin yang beriman mengerti serta merasakan, apa arti kelaparan. Apa arti kekurangan? Apa arti hidup dalam kesederhanaan? Bukan sebaliknya. Berpuasa, namun dijadikan ajang pembalasan. 

Pembalasan terhadap setiap rasa lapar dan dahaga. Setelah berlapar-lapar, kemudian berbuka dengan mode kesetanan. Bukan sarana melatih kesederhanaan, melainkan justru israf adanya. 

Momen puasa Ramadhan tahun ini, memang merupakan tahun yang amat berbeda dari biasanya. Momen yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama. Di saat saudara muslim kita merasakan kelaparan, penderitaan, penjajahan, kehilangan rumah, sanak saudaranya, bahkan hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kekhawatiran. 

Coba sejenak kita tengok saudara kita di daerah Aceh, di daerah Sumatera, di daerah Palestina, di daerah Iran, atau negara-negara yang secara langsung terdampak dari adanya Perang di Timur Tengah. Sekali lagi, sebagai muslim Indonesia, sejatinya kita harus merasakan gejolak dunia. Karena secara tidak langsung Indonesia juga merasakan dampaknya. 

Wallahua'lam... 

Menjelang berbuka puasa untuk wilayah Tulungagung dan sekitarnya. Penulis, hanya mencoba untuk melakukan refleksi, melakukan muhasabah, sebaiknya kita memang harus lebih banyak bersyukur atas segela karunia-Nya. 
Terima kasih Tuhan untuk segalanya... 

Dilanjutkan lagi nanti ya, maghrib telah tiba. 
Hehe....