Sumber foto: https://tunashijau.id/2020/03/mengenal-reuse-pada-prinsip-olah-sampah-3r-reduce-reuse-recycle/

oleh: alfin arma

    Beberapa hari yang lalu sejenak kusempatkan untuk memunguti sampah yang masih cukup banyak berserakan di sekitar pekarangan rumah. Sampah, yang katanya selalu membuat banyak pihak merasa resah. Entah karena aromanya yang kurang sedap, atau karena sifat dasarnya yang cukup sulit terurai dalam waktu yang singkat oleh alam. Salah satunya apalagi kalau bukan sampah plastik sisa rumahtangga. Selain dinilai sulit terurai secara alami, atau kendati bisa membutuhkan waktu yang cukup lama. Hitungan tahun, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Bilamana tidak dikelola secara baik, kemungkinan besar akan mencemari lingkungan yang ada disekitarnya.

    Sebagaimana diketahui bersama, beberapa alat atau perlengkapan rumahtangga memang sengaja didesign dengan mempertimbangkan unsur penting agar dapat diolah, atau digunakan kembali. Artinya, pada beberapa alat perlengkapan rumahtangga memang diciptakan untuk dapat dipakai secara berulang-ulang, atau sekali pakai. Setelahnya dapat didaur ulang kembali. Sehingga, diharapkan mampu mengurangi akan pencemaran lingkungan hidup. Dan dalam menggunakan peralatan yang berasal dari bahan plastik unsur penting yang tidak boleh dilupakan minimal harus mempertimbangkan aspek 3 R. Bilamana dijabarkan ketiga unsur penting itu meliputi: Reduce, Reuse, & Recycle.

    Meminimalisir penggunaan bahan yang dinilai berbahaya bagi kelestarian lingkungan hidup, seperti halnya penggunaan kertas, tissue, atau kayu untuk bahan meuble termasuk dalam unsur R yang pertama, yakni Reduce. Dalam urutan selanjutnya ada unsur penting yang kedua yakni, Reuse. Atau mudahnya dapat dimaknai dengan memanfaatkan kembali benda yang dinilai sudah tidak memiliki fungsi-guna. Dan unsur R ketiga adalah Recycle, dimana benda-benda yang dinilai sebagai sampah harus didaur ulang agar dapat dimanfaatkan kembali untuk kegunaan lain. Adapun tambahan unsur R penting lainnya meliputi: Repair, usaha perbaikan demi lingkungan. Seperti halnya memperbaiki barang-barang yang sudah rusak agar bisa gunakan kembali.

    R selanjutnya adalah Refuse. Yakni, menolak dan menghindari pemakaian bahan yang menggunakan unsur plastik dan lebih memilih bahan yang lebih natural. Dan yang paling penting adalah Rethink, dimana seseorang dituntut untuk berpikir ulang saat akan menggunakan atau membeli sesuatu. Terutama benda yang terbuat dari unsur plastik atau sesuatu lainnya yang dinilai kurang ramah terhadap kelestarian lingkungan. Dengan demikian genaplah menjadi unsur 6 R.

    Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk besar diantara beberapa negara yang ada di dunia, tentu turut menyumbang angka produksi sampah yang cukup signifikan. Mengingat jumlah penduduk yang cukup besar, tentu akan berakibat pula pada produksi sampah sisa rumahtangga, home industri, ataupun pabrik skala besar. Sehingga, mengenai sampah ini menjadi salah satu permasalahan yang cukup serius dan banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan, terutama mereka yang tergabung sebagai aktivis pecinta lingkungan hidup, atau individu-individu yang getol untuk melakukan upaya penghijauan, penyelamatan lingkungan hidup dari ancaman bahaya pencemaran limbah, atau mereka-mereka yang sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan hidup serta terjaganya kelestarian ekosistem di sekitarnya.

    Tak hanya dinas pemerintah terkait sebagaimana halnya Dinas Lingkungan Hidup, Sumber Daya Alam, maupun Kehutanan, banyak Lembaga Swadaya Masyarakat, maupun Perkumpulan atau Komunitas Pecinta Lingkungan yang tersadar dan bergerak secara aktif dalam Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup di sekitarnya. Mengingat, angka pencemaran lingkungan hidup yang ada di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya, lebih-lebih tak sedikit pihak yang merasa acuh atas permasalahan semacam itu. Mungkin, karena masih ada yang berpikiran bahwa sampah yang dibakar, dibuang begitu saja di pekarangan sekitar rumah, sungai, ataupun laut akan terurai dengan sendirinya oleh alam, sehingga mereka tak banyak ambil pusing. Terlebih sampah yang dibuang hanya sebatas kata 'sedikit'. Jika sedikit kemudian banyak pihak yang ikut membuang sampah sembarangan, sudah pasti akan semakin tambah bertumpuk dan berserakan dimana-mana.

    Kembali pada cerita dan niatan awalku tadi. Mengapa aku tergerak untuk mulai sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup yang paling terdekat yakni di sekitaran rumah. Yaps, awal dari itu semua adalah karena aku merasa cukup risih dengan keberadaan sampah-sampah plastik sisa rumahtangga. Entah itu kantong kresek bekas, botol minuman, bungkus jajanan (snack), sterofoam, botol bekas shampo, bungkus deterjen, atau jenis sampah plastik lainnya. Dan benar, tak habis waktu satu jam karung plastik ukuran sedang yang sengaja kubawa telah hampir penuh dengan beragam sampah plastik sisa rumahtangga. Padahal itu semua belum menjangkau seluruh sudut pekarangan rumah, bagaimana kalau semuanya? Satu kampung, kecamatan, kabupaten, atau bahkan skala nasional, ngeri juga sepertinya.

    Itulah nilai penting dimana semua pihak harus merasa sadar, melek akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup, yang paling dekat yakni pekarangan sekitar rumah. Jangan ngomong peduli akan kelestarian lingkungan hidup Nasional bahkan Internasional, kalau seandainya lingkungan di sekitar rumah sendiri masih kotor, banyak dijumpai sampah terutama dari unsur plastik yang masih berserakan bahkan bertebaran dimana-mana. Tapi, kali ini tidak akan membahas lebih jauh mengenai dampak negatif daripada sampah. Ok... dilanjut dulu ya.

    Pentingnya untuk selalu menjaga dan terus menjaga akan kelestarian lingkungan hidup, dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yang dinilai cukup simple. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, meminimalisir penggunaan bahan plastik sekali pakai, atau menggunakan barang atau peralatan pengganti yang dinilai cukup ramah lingkungan. Budaya penting semacam ini harus senantiasa diterapkan sejak dini. Jika sebelumnya saat keluar rumah selalu beli air minum dalam kemasan, coba mulai beralih untuk membawa botol air minum sendiri dari rumah. Dari yang belanja selalu meminta kantong kresek, coba ditekankan untuk selalu membawa tas belanja sendiri dari rumah. Kalau hanya beli sedikit kebutuhan di toko, cukup say no to 'kantong kresek'. Tidak sebaliknya, mbak/mas minta kantong kreseknya ya.

    Lebih daripada itu, kabar yang cukup baik bahwa telah ada banyak pihak yang mampu berinovasi, merealisasikan ide-ide kreatifnya seperti: membuat kerajinan dari bahan baku sampah plastik, untuk tas belanja, vas bunga, wadah tissue, lampion, atau bahkan telah mampu merubah sampah plastik menjadi bahan bakar kendaraan sebagaimana halnya BBM pada umumnya. Atau inovasi lain dengan menjadikan abu sisa pembakaran sampah sebagai bahan untuk pembuatan material bangunan, seperti halnya pembuatan batako, paving, atau kreativitas lainnya yang tak hanya memiliki nilai guna semata, melainkan juga estetika.

    Sampai disini, kreativitas apa yang sudah kalian buat dari bahan baku sampah? Kendati tak sebegitu luarbiasa seperti halnya mereka, biasanya dalam hal ini secara pribadi aku lebih senang memanfaatkan sampah plastik sebagai wadah untuk menanam atau menyemai bunga, atau sesekali untuk proses penyemaian tanaman buah. Tidak wah...lebih-lebih mewah, tapi setidaknya dengan demikian sisa sampah plastik dari kebutuhan rumahtangga dapat diaplikasikan kembali, manfaati, juga mengandung unsur seni. Tak ayalnya panci atau ember bekas yang kusulap sebagai pot bonsai tanaman. Kalau diperhatikan sudah pasti usang, tapi disitulah letak nilai seninya. hehe

    Sebatas kata alasan, atau penyebab utamanya bilang saja karena belum mampu untuk membeli pot bunga baru. Ya, itu salah satu alasan paling tepatnya. Disisi lain, seandainya tidak dimanfaatkan kembali, sudah pasti akan tergeletak begitu saja tanpa guna. Atau mungkin langkah praktis lainnya dengan menjualnya pada tukang rongsokan. Tapi, dari situ aku rasa kurang ada nilai seninya. Mungkin kalian-kalian semua sudah punya inovasi lebih wah daripada itu, atau barangkali ingin mencoba untuk memulai memanfaatkan ulang dengan ide-ide dasar yang lebih menarik lainnya.

Selamat mencoba!!!