oleh: alfin arma
Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung. Hari ini merupakan awal dimana kegiatan webinar yang diadakan oleh grup literasi ini, sekaligus sebagai pertanda di
launchingnya komunitas SPK Tulungagung secara resmi. Kegiatan webinar yang dilangsungkan melalui
platform zoom dan
youtube ini cukup menyita banyak perhatian khalayak ramai. Mulai dari anggota SPK Tulungagung sendiri, sampai peserta dari lintas kota yang ada di Indonesia. Hal ini membuktikan, bahwa semangat teman-teman dan sahabat semua untuk bergabung dan belajar menulis sangat tinggi.
Secara pribadi, sebagai anggota grup yang terbilang masih sangat baru dan awam, suatu berkah tersendiri bagiku karena diperkenankan untuk bergabung bersama orang-orang yang begitu hebat dan senior, khususnya dalam bidang literasi.
Atmosfer baru yang sangat begitu terasa saat pertama kali diizinkan untuk masuk dan bergabung di dalamnya, seperti halnya merasa kerdil sendiri dalam hal berliterasi. Perasaan takut, cemas, tak dapat kunafikkan selalu muncul begitu saja. Mungkin, salah satunya karena takut seandainya tulisan yang kubuat tidak bagus, dan menuai kritikan pedas dari para senior nantinya.
Benar adanya. Dalam kegiatan webinar yang baru saja usai pukul 12.00 WIB ini tadi, salah satu dari sekian banyak ilmu seputar dunia literasi yang kudapatkan bahwa, untuk menjadi seorang penulis pasti pernah merasakan apa yang dinamakan ketakutan, kurang percaya diri terhadap tulisan yang dibuatnya. Takut untuk memulai menulis, takut apabila tulisan yang dihasilkannya jelek, takut apabila hanya akan menimbulkan komentar dan kritikan pedas dari para pembacanya, atau bahkan takut saat akan membagikan karya pada khalayak ramai.
Itulah dari sekian banyaknya rasa takut yang dialami oleh seseorang untuk memulai menulis, tak terkecuali diriku. Tapi, seandainya seseorang ingin membuat sebuah karya lalu masih saja terbelenggu oleh rasa takut, malu untuk memulai, kapan kiranya karya tersebut akan terselesaikan. Atau selamanya hanya akan menjadi sebatas
idea atau angan belaka. Tidak mau hal yang demikian terjadi bukan? Maka, apapun kondisi yang ada saat ini belajar, belajar, dan belajarlah untuk segera memulai praktek menulis.
Masih cukup jelas teringat dalam benak, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh kepala sekolahku saat masih duduk di bangku MAN Tulungagung 1 yakni, Dra. Hj. Miftachurrohmah, M.Ag., :
"Mulailah untuk melakukan suatu pekerjaan (kebaikan) sekecil apapun, mulailah dari hal yang mudah, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari sekarang, kapanpun, dimanapun. Dari yang terpaksa, terbiasa, maka akan menjadi sesuatu yang luarbiasa."
Semboyan itulah yang menurutku cukup efektif untuk diterapkan. Sesuatu yang diawali secara terpaksa, sepertinya memang kurang begitu nikmat dirasakan. Berbeda halnya apabila dilakukan dengan kesadaran, dan ketulusan dari dalam diri seseorang. Tapi, jika seandainya kesadaran itu belum kunjung datang lalu kapan kira-kira pekerjaan itu akan segera mulai dilakukan?
Keterpaksaan untuk memulai melakukan sesuatu, sepertinya hanya akan berlangsung di awal suatu pekerjaan semata. Mungkin, karena belum terlalu mengenal dan memahami dunia pekerjaan yang dilakukan. Dari keadaan terpaksa, terus dipaksa, akhirnya perlahan akan mulai menjadi terbiasa. Karena setiap waktu telah dikerjakan, terus dikerjakan, pada akhirnya akan mulai merasakan kenyamanan. Pada tahapan selanjutnya, kemungkinan besar seseorang akan mulai produktif dalam melakukan suatu pekerjaan.
Tak beda jauh dengan menulis. Jika nilai kesadaran dari seseorang belum kunjung datang, langkah memaksakan kehendak untuk menulis, atau dipaksa untuk segera menulis, kiranya itu cukup tepat dilakukan. Menulis dari hal yang mudah, menulis dari sesuatu yang disukai, menulis tanpa pernah mengenal kata tapi, atau bahkan nanti. Menulis tanpa merasa takut salah, karena kesalahan adalah sebatas hal yang lumrah. Dengan demikian, perlahan nilai kesadaran untuk segera menulis akan datang. Karena sudah tidak mengenal lagi kata "takut salah", pada akhirnya akan muncul rasa kewajiban untuk senantiasa menulis, kapanpun dan dimanapun.
Tak lupa pula yang menjadi hal paling penting bagiku, sebagaimana yang sering disampaikan oleh beliau, Dr. Ngainun Naim, M.H.I, :
"Mulailah untuk segera praktek menulis, jangan hanya sekedar belajar menulis." Point penting yang dapat dipahami adalah menulis bukan hanya sekedar belajar menulis semata, melainkan segera praktek untuk menulis. Mana mungkin sebuah karya akan terselesaikan jika hanya sebatas menjadi angan dan tak kunjung tertuangkan. Sampai kapanpun, jika hanya sebatas menjadi teori tanpa mengenal eksekusi, sudah pasti ia akan abadi di alam idea tanpa pernah mengenal dunia realita.
Sekian...
4 Comments
Menulis memang luar biasa.
ReplyDeletehehe, inggih.
Deletesetidaknya dgn menulis bisa menjadi salah satu cara untuk meluapkan perasaan.
Luar biasa. Sedikit koreksi; inkonsistensi dalam penggunaan kata ganti orang pertama sedikit mengganggu kenikmatan membaca tulisan panjenengan. Saya= Aku. Sebaiknya digunakan salah satu saja secara konsisten. 🙏
ReplyDeletehehe, inggih siap.
DeleteTerimakasih atas koreksiannya.
InsyaAllah akan diperbaiki kembali.
Mohon arahan dan bimbingan jika sekiranya masih banyak kata yg salah atau kurang tepat.