Oleh: alfin arma
Di suatu sore saat menjelang salat magrib. Tepatnya di sebuah dusun bernama Krisik, desa Ngrejo Kec. Bakung, kebetulan masih termasuk bagian wilayah Kab. Blitar. Sebuah dusun yang terletak di tepi pesisir selatan. Hanya beberapa kilometer saja sudah sampai di lokasi pantai selatan. Ada pantai Pangi, Tambak, Pasur, dll.
Selain terkenal karena wisata pantainya, di wilayah sana juga terkenal dengan wisata sejarahnya. Kebetulan di dekat lokasi kecamatan Bakung sendiri terdapat sebuah monumen Trisula. Sebuah saksi bisu atas segala peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Tidak bermaksud sedikitpun untuk mengingatkan atas luka lama, melainkan hanya sebatas ingin merawat ingatan akan sejarah yang telah terjadi di wilayah sana. Bagaimana pastinya, sepertinya tak ada salahnya apabila kapan hari ada waktu luang untuk berkunjung (ziarah) ke wilayah sana. Banyak peristiwa sejarah penting yang tidak dapat kuceritakan secara langsung, melalui sepatah atau dua patah kata.
Mengingat memasuki bulan September akhir ini, terdapat sebuah peristiwa sejarah penting yang tak boleh dilupakan begitu saja. Sekali lagi, tidak ada maksud untuk mengingatkan akan luka lama. Sedikit informasi saja, andaikata memang tertarik berkunjung ke wilayah sana jangan khawatir. Sebab, sesampainya di lokasi wisata sejarah monumen Trisula sudah ada pihak pemandu wisata (juru kuncinya). Sampaikan saja maksud & tujuan berkunjung, tidak perlu banyak tanya terlebih dahulu sebaiknya. Biasanya bapak paruh baya pemandu wisata yang ada di sana akan bertanya terlebih dahulu tentang asal saudari/a, dari institusi mana, maksud dan tujuannya untuk apa, InsyaAllah perlahan beliau akan menceritakan secara perlahan dan sedetail-detailnya.
Pengalaman berharga itu pernah aku dapatkan dengan kawan-kawan kuliah, saat akan check lokasi untuk kami melaksanakan salah satu bentuk Tri Dharma kampus berupa pengabdian kepada masyarakat (Kuliah Kerja Nyata). Di kisaran awal bulan Juli tahun 2018. Saat itu bertepatan kami datang bertiga. Sebuah negeri yang cukup jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Masih begitu banyak wana yang cukup asri di sekelilingnya. Tak banyak suara bising dari mesin-mesin besar, atau kendaraan berlalu-lalang sebagaimana umumnya di wilayah kota. Damai rasanya, kendati hanya tinggal beberapa waktu saja di sana.
Cerita kali ini tidak akan membahas lebih jauh berkenaan dengan sepenggal sejarah di monumen Trisula. Melainkan, sebuah kisah tentang seorang penjaga sekolah, muadzin, sekaligus guru ngaji di salah satu musala dekat posko KKN ku. Tepat di suatu sore saat menjelang jamaah salat magrib. Kebetulan saat aku dan kawan-kawan kuliah telah mulai melaksanakan kegiatan pengabdian (KKN Revolusi Mental 2018). Salah seorang sahabatku melantunkan salawat Thibbil Qulub, seusainya mengumandangkan azan. Bergantian denganku. Sembari menunggu para jamaah salat magrib datang.
Dalam kesempatan itu sepertinya bapak Nanang selaku penjaga sekolah, juga guru ngaji di musala tempat kami berjamaah bertepatan berhalangan hadir untuk menunaikan salat magrib. Namun, sayup-sayup mendengar suara salawat yang kami lantunkan.
Dalam kesempatan itu sepertinya bapak Nanang selaku penjaga sekolah, juga guru ngaji di musala tempat kami berjamaah bertepatan berhalangan hadir untuk menunaikan salat magrib. Namun, sayup-sayup mendengar suara salawat yang kami lantunkan.
Allahumma Sholli 'ala Sayyidinaa... Muhammadin Thibbil Qulubi wa Dawaaiha... Wa 'afiyati Abdani wa Syifa'iha... Wa Nuuril Abshori wa Diyaaiha... Wa 'ala Alihi wa Shohbihi wa Sallim... Kebetulan hanya beberapa kalimat saja yang beliau tangkap dan hafal (katanya). Karena dalam kesempatan sebelumnya telah meminta nomor WA padaku, akhirnya keesokan harinya beliau mengirimkan sebuah pesan padaku. Pada intinya: "mas tulung sampean catetne pujian/salawat sing sampean gae pujian dek wingi magrib kae yo. Pokoke sing Muhammadin Thibbil Qulubi.. iku pokoke. Tulung sampean catetne gawe spidol sing rodok gedhi yo. Adem rasane pas krungu pujian iku."
Sempat aku balas, "nopo kulo padhosne video utawi teks salawat saking youtube/google mawon pak?." Beliau kembali membalas, "ndak usah ae mas, tulung sampean tulisne ae yo. Secepate sampean terne nyang mahku."
Mendengar balasan itu, oke langsung saja malamnya aku buatkan tulisan salawat dengan bantuan teman-teman. Di sebuah kertas berukuran A4 dengan menggunakan spidol ukuran besar. Agar tulisanku yang cenderung jelek dan kecil-kecil nantinya dapat dibaca oleh beliau.
Mendengar balasan itu, oke langsung saja malamnya aku buatkan tulisan salawat dengan bantuan teman-teman. Di sebuah kertas berukuran A4 dengan menggunakan spidol ukuran besar. Agar tulisanku yang cenderung jelek dan kecil-kecil nantinya dapat dibaca oleh beliau.
Bertepatan karena keesokan harinya bukan jadwalku untuk mengisi kegiatan di TPQ dan Madin, maka aku meminta tolong pada salah seorang sahabat KKN bernama mas Badruzzaman atau biasa dipanggil dengan mas Badu. Karena yang bersangkutan mengiyakan, okelah kalau begitu. Tandanya salah satu tugas sudah selesai dilaksanakan. Singkat cerita, setelah mas Badu dan kawan-kawan lainnya telah usai ngulang ngaji, akhirnya aku tanyakan, "Gimana titipan untuk pak Nanang sudah sampean kasihkan?." Disaut saja, "oke wes beres boss."
Dengan demikian, tandanya sudah tidak ada lagi utang dengan bapak Nanang. Bertepatan di malam hari pada waktu itu. Nadanya, ponselku kembali berbunyi. Pertanda ada sebuah pesan WA yang masuk. Coba kulihat, sebuah pesan dari pak Nanang lagi, "mas tulisan salawate kog durung sampean terne?." Sontak kubalas, "wau sampun kulo titipne mas Badruzzaman lho pak. Kulo tangkleti wau nggih sampun disukakne njenengan." Beliau kembali membalas, "durung enek opo-opo iki mau mas. Yo ndak enek cah KKN sing moro ndek omah."
Setelah itu aku langsung bergegas untuk menanyakan pada mas Badu, ternyata terjadi kesalahpahaman di antara kami berdua. Maksudku meminta tolong agar disampaikan pada bapak Nanang salah seorang guru ngaji di musala dusun Krisik, ternyata eh ternyata... malah disampaikan pada guru ngaji di musala satunya. Itupun lokasinya di dusun sebelah bernama dusun Prodo. Waduuhh... ternyata dari tadi belum paham maksudku bagaimana. Tapi, sudah diiyakan begitu saja. Jadi salah sasaran ceritanya. Tapi, tak mengapa.
Kusampaikan permintaan maaf pada pak Nanang, atas semua kesalahpahaman yang telah terjadi. Dan akan kami buatkan tulisan salawat yang baru lagi, dan esok kuserahkan secara langsung pada yang bersangkutan sembari mengisi kegiatan TPQ di musala dusun Krisik tempat kami KKN ini. Mudah-mudahan tidak ada misc komunikasi lagi.
Sedikit hikmah yang dapat kupetik dari kejadian ini, seandainya kita memiliki kewajiban atau tugas dari seseorang sebaiknya segera diselesaikan. Tak baik apabila ditunda-tunda. Terlebih, malah membebankan tugas itu pada yang lainnya. Harapan agar lekas terselesaikan, ujung-ujungnya malah menjadi berulang-ulang. Pembelajaran.
Tulungagung, 17 September 2020.


2 Comments
kesalahpahaman dapat menjadi bara konflik. Maka dari itu Tabayyun dan pengertian adalah air yang mengucurkan kedamaian
ReplyDeleteBenar mas. Sebaiknya sekecil apapun kesalahpahaman yg sedang terjadi segera dijelaskan dan diselesaikan.
ReplyDeleteSupaya tidak terus-menerus dalam lingkar kesalahpahaman.