(Gambar ilustrasi)
Hari yang sangat bersejarah. 19 September 2020. Hari di mana sosok perempuan yang sangat begitu tabah, tak banyak berkeluh kesah, dengan segala bentuk jirih payah, telah memasuki usianya yang ke-54. Itulah bunda Siti Nur Hidayah.
Sosok yang begitu sabar. Tak pernah membentak kasar dalam setiap berujar. Padahal sosok putranya belum mampu untuk selalu bertindak secara benar, terlebih dalam segala hal.
Kasih sayangnya begitu tulus. Tak pernah terputus-putus. Meski secara pribadi, terkadang aku masih membuat hatinya terluka. Baik dengan atau tanpa ku sengaja.
Dalam kesehariannya, selagi mampu untuk melakukan segala sesuatu beliau tak pernah meminta untuk dibantu. Pun, juga tak banyak perintah yang disampaikan padaku. Andaikan ada, hanya sekadar satu atau dua kali saja. Tidak untuk seterusnya. Sosok yang begitu hebat dan luar biasa.
Bunda, jasamu begitu tak terhingga. Dengan apa aku harus membalas semuanya. Dengan pikiran, tenaga, atau materi belaka. Rasanya semua itu tak cukup, dan tak akan pernah sanggup untuk menggantikannya.
Lalu dengan apa? Dengan apa aku mampu membalas semuanya. Atau setidaknya sebagian daripadanya. Dengan apa? Rasanya, selamanya aku tak akan pernah mampu untuk membalas. Kendati hanya sebatas secuil saja.
Ibarat kata pepatah: "Kasih dan sayang ibu sepanjang masa. Namun, kasih dan sayang anak sepanjang galah." Bagaimana mungkin bisa, galah akan mengalahkan panjangnya masa. Sebab, ia begitu terbatas. Sedangkan masa adalah sebaliknya.
Namamu terabadikan dalam Al-Qur'an yang suci dan mulia. Pun, juga terabadikan dalam Sunnah Rasul-Nya. Di bawah telapak kakimu, tempat syurgaku berada. Menjagamu, berarti juga menjaga syurgaku.
Maafkanlah, sampai detik ini putramu masih belum bisa memberikan apa-apa. Justru sebaliknya, masih terus merepotkan dan meminta. Masih sering membuatmu jengkel, juga ngeyel. Sekali lagi, maafkanlah Bunda.
Di usiaku dan usiamu yang semakin terus berkurang, semoga kita semua mampu untuk terus berjuang dan berbenah diri. Tiada arti, tiada guna, jika di kehidupan dunia yang hanya sebatas fana' tak mampu berbuat apa-apa (kebaikan, kemanfaatan) untuk sesama.
Semoga untuk sekarang dan seterusnya, senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Secuil asa dariku, semoga itu mampu untuk sedikit membuatmu merasakan bahagia. Selamat untuk harimu Bunda.
Sosok yang begitu sabar. Tak pernah membentak kasar dalam setiap berujar. Padahal sosok putranya belum mampu untuk selalu bertindak secara benar, terlebih dalam segala hal.
Kasih sayangnya begitu tulus. Tak pernah terputus-putus. Meski secara pribadi, terkadang aku masih membuat hatinya terluka. Baik dengan atau tanpa ku sengaja.
Dalam kesehariannya, selagi mampu untuk melakukan segala sesuatu beliau tak pernah meminta untuk dibantu. Pun, juga tak banyak perintah yang disampaikan padaku. Andaikan ada, hanya sekadar satu atau dua kali saja. Tidak untuk seterusnya. Sosok yang begitu hebat dan luar biasa.
Bunda, jasamu begitu tak terhingga. Dengan apa aku harus membalas semuanya. Dengan pikiran, tenaga, atau materi belaka. Rasanya semua itu tak cukup, dan tak akan pernah sanggup untuk menggantikannya.
Lalu dengan apa? Dengan apa aku mampu membalas semuanya. Atau setidaknya sebagian daripadanya. Dengan apa? Rasanya, selamanya aku tak akan pernah mampu untuk membalas. Kendati hanya sebatas secuil saja.
Ibarat kata pepatah: "Kasih dan sayang ibu sepanjang masa. Namun, kasih dan sayang anak sepanjang galah." Bagaimana mungkin bisa, galah akan mengalahkan panjangnya masa. Sebab, ia begitu terbatas. Sedangkan masa adalah sebaliknya.
Namamu terabadikan dalam Al-Qur'an yang suci dan mulia. Pun, juga terabadikan dalam Sunnah Rasul-Nya. Di bawah telapak kakimu, tempat syurgaku berada. Menjagamu, berarti juga menjaga syurgaku.
Maafkanlah, sampai detik ini putramu masih belum bisa memberikan apa-apa. Justru sebaliknya, masih terus merepotkan dan meminta. Masih sering membuatmu jengkel, juga ngeyel. Sekali lagi, maafkanlah Bunda.
Di usiaku dan usiamu yang semakin terus berkurang, semoga kita semua mampu untuk terus berjuang dan berbenah diri. Tiada arti, tiada guna, jika di kehidupan dunia yang hanya sebatas fana' tak mampu berbuat apa-apa (kebaikan, kemanfaatan) untuk sesama.
Semoga untuk sekarang dan seterusnya, senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Secuil asa dariku, semoga itu mampu untuk sedikit membuatmu merasakan bahagia. Selamat untuk harimu Bunda.
Tulungagung, 19 September 2020.


0 Comments