Masih menyoal visitasi prodi Hukum Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Tulungagung. Kendati sudah berakhir satu minggu yang lalu, kurasa visitasi kali ini memang cukup terasa berbeda jika dibandingkan dengan prodi Hukum Keluarga Islam yang telah usai dilaksanakan pada bulan Desember Tahun 2020 kemarin.
Kebetulan 2 asesor kali
ini sangat detail. Satu-persatu standart beliau teliti dan pertanyakan
secara lugas. Terlebih pada poin yang sekiranya masih belum terpenuhi. Di sisi
lain pada kesempatan kali ini, salah satu asesor bertepatan juga baru selesai
melakukan visitasi pada prodi Hukum Ekonomi Syariah (S-1). Entah karena
kebetulan, atau memang karena kebetulan yang menjelma sebagai takdir Tuhan.
Sekitar satu minggu menjelang pelaksanaan akreditasi, seluruh tim borang sudah dikerahkan. Mengerahkan seluruh kemampuan, waktu, tenaga, serta pikiran. Setidaknya kode-kode saat visitasi pada prodi HES S-1 kemarin bisa digunakan sebagai langkah persiapan. Jika kemarin sudah dengan begitu detailnya visitasi berjalan, maka mau tidak mau persiapan dan pengumpulan data pada visitasi kali ini harus benar-benar lebih ekstra dan diupayakan untuk dapat melengkapi semua berkas yang diminta.
Satu minggu, waktu yang terasa cukup atau bahkan sangat singkat. Mengingat H-3 sebelum pelaksanaan visitasi via daring dilaksanakan, semua berkas dalam bentuk soft file harus sudah dikirimkan. Semakin banyak berkas yang sudah terlampir, maka akan semakin memperingan pekerjaan rekan-rekan/tim borang. Jika sebaliknya, mau tidak mau hari-hari mendekati visitasi harus bekerja lebih ekstra daripada hari sebelumnya.
Kendati bukan untuk kali
pertama menghadapi seorang asesor, rasanya visitasi kali ini memang cukup terasa
berbeda daripada sebelumnya. Tipikal Asesor yang sangat disiplin, detail, terus
mengejar dan mencecar. Belum selesai menjawab satu pertanyaan, sudah disusul
dengan pertanyaan lainnya. Bertubi-tubi, seperti tidak ada jeda sama sekali.
Hari pertama pada saat
pelaksanaan visitasi, nada tinggi, pertanyaan bertubi-tubi, nampaknya sudah
sedari awal dilontarkan. Sontak suasana yang ada berubah seketika, menjadi
sedikit tegang, dan seperti berada di bawah tekanan. Salah sedikit saja dalam
menjawab, pasti akan dikejar kemana-kemana.
Mau bagaimana lagi,
memang seperti itu karakter 2 Asesor kali ini. Detail, rigid, disiplin. Jika dari hari pertama semua tim
sudah terperangkap alur semacam ini, seandainya tidak saling menguatkan, saling
memberikan support, saling mengerti agar tidak mudah terbawa emosi, rasanya hari
kedua pasti akan down. Dan raut wajah yang berbeda terasa nampak adanya,
utamanya dari Ibu Kaprodi, Sekprodi, demikian juga pada anggota tim borang
lainnya.
Selayaknya apabila
dikembalikan, memang itulah tugas dan kewajiban utama seorang Asesor. Bertugas
untuk melakukan penilaian sedetail mungkin, jangan sampai ada satupun hal yang
terlewatkan. Sekecil apapun itu. Mengejar, mencecar, dengan pertanyaan yang
bertubi-tubi, tak lain adalah sebagai upaya untuk mendapatkan data dan jawaban
yang sebenar-benarnya. Sebagai langkah untuk melakukan crooscheck data, apakah
data itu benar-benar valid atau sekadar rekayasa. Tak lain dan tidak bukan
adalah untuk kebaikan sebuah prodi atau institusi itu sendiri.
Sikap detail, teliti, dan kritis, memang merupakan bentuk keprofesionalitasan seorang Asesor, dalam menjalankan peran dan tugasnya. Tujuan utamanya adalah sebagai bentuk penilaian kelayakan atas suatu prodi atau institusi. (Nisak)
Ibaratnya seseorang
yang akan naik jenjang pendidikan, pastilah mereka melewati setiap tahap ujian.
Dan pastinya akan terasa semakin sulit, sulit, dan lebih sulit. Untuk mengukur
sejauh mana mereka layak untuk dinaikkan pada level berikutnya.
Akan tetapi, sebuah saran,
kritikan, yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat, atau bahkan terasa
cukup menyakitkan, terkadang justru membuat seseorang menjadi marah atau bahkan down.
Karena secara umum, mayoritas orang menyukai yang namanya pujian, sanjungan. Di
mana pada intinya mengarah pada suatu kesan yang baik. Sebaliknya, kritikan,
masukan yang terlalu pedas, terkadang justru membuat seseorang menjadi marah
atau bahkan terpuruk. Sebenarnya apabila diresapi, semua itu adalah sebagai langkah
guna melakukan proses perbaikan. Tak lain juga untuk kebaikan diri sendiri.
Mengingat, tiada satupun makhluk yang sempurna dari segalanya di dunia ini.
Hanya sebatas manusia biasa, yang begitu banyak kekurangan di mana-mana.
Setiap perjuangan,
ikhtiar, juga do’a, yang selama ini telah diupayakan dan dipanjatkan, apapun
itu nanti hasilnya, percayalah tidak ada satupun yang sia-sia apabila dilakukan
karena-Nya. Terima kasih untuk para Asesor dari BAN PT, Dr. Muhammad Taufiki,
M.Ag., Dr. Abdul Mujib, M.Ag., atas segala masukan, saran, kritikan, serta
semua ilmu barunya yang telah diberikan kepada kami. Terima kasih juga pada Ibu
Dr. Iffatin Nur, M.Ag., selaku Kaprodi HES, Ibu Sekprodi, Reni Dwi Puspitasari,
M.Sy., rekan-rekan tim borang: Abdurrahman Hakim, Inama Anusantari, Salsabila
Firdausia, M. Ngizzul Muttaqin, Aris Wibowo, Mas Aji, Mbak Agnes, Mbak Ayuk, M.
Hilmy Zein, Ahmad Khudori, Anis Fitri Dzakiyah.
Sebaik atau seburuk
apapun sebuah hasil, itu bukan menjadi patokan yang utama. Akan tetapi,
setiap proses yang kita jalani, setiap pengalaman yang telah kita lewati,
itulah kiranya yang jauh lebih utama dan berharga. Sebab, hasil tak akan pernah
mengkhianati suatu proses. Dan sebaik-baiknya sebuah proses adalah ia yang
senantiasa kita nikmati serta syukuri. Selamat & sukses selalu untuk para
“Pejuang Wakaf Borang”.
Tulungagung,
09 Februari 2021.


4 Comments
Kereeen👍👍 Barakallah mas 🎉🎉🎉
ReplyDeleteRasanya momentum sebagaimana kemarin, sulit untuk dapat segera terlupa begitu saja. Nanti kalau jadi seorang asesor jangan terlalu galak-galak nggih mbak. hehe...
ReplyDeletePerjuangan yg luar biasa, semoga diberikan hasil yg terbaik
ReplyDeleteAamiin Ya Robbal Alamiin.
DeleteTerima kasih.