Ada banyak hal dalam hidup ini yang patut untuk senantiasa disyukuri. Diberi nikmat berupa kesehatan, kebersamaan dengan kedua orang tua, keluarga, nikmat silaturrahim dengan teman atau sahabat, dan nikmat tak terhingga lainnya, yang tidak bisa dijelaskan begitu saja dengan sekadar kata-kata. Terkadang nikmat itu sendiri bersifat kecil dan terlihat begitu sederhana, bahkan juga sering dilupa. Tak ubahnya nikmat dapat melihat, bernafas secara bebas dan lepas, dimana sepeserpun tidak dipungut biaya oleh Sang Pencipta. Akan tetapi, yang tidak boleh untuk dilupa bahwa semua itu akan ditanya dan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya.

Terlihat biasa, sederhana, namun di saat kehilangannya baru begitu terasa. Saat dalam keadaan sehat, dapat melakukan segala macam kegiatan apapun yang diinginkan dan disuka, pada saat itu seolah tidak terasa bahwa kesehatan itu penting dan mahal harganya. Bekerja seolah tidak mengenal waktu, melakukan aktivitas keseharian tanpa mengenal henti.

Bahkan malam sampai berubah menjadi siang, siang berubah menjadi malam, semua berjalan dan terasa baik-baik saja adanya. Akan tetapi saat kondisi tubuh dalam keadaan sakit, atau sesuatu yang dimiliki telah hilang dari genggaman, pada saat itu semua menjadi begitu terasa. Betapa sangat penting dan berharganya arti tentang kesehatan, arti kebersamaan dengan seseorang. Dan yang tak boleh untuk dilupakan bahwa semua itu hanya sekadar titipan dari-Nya.

Pertanyaan yang terkadang muncul selanjutnya adalah mengapa kesempatan yang ada pada saat itu tidak digunakan dan dijaga dengan sebaik-baiknya. Andaikan digunakan dan dijaga dengan sebaik-baiknya mungkin saja saat ini semua itu masih ada. Semua akan baik-baik saja adanya. Tidak ada satupun yang berkurang atau bahkan hilang. Sayangnya, salah satu dari sekian hal yang cukup sulit untuk dilakukan adalah menjaga, merawat segala sesuatu secara kontinyu.

Tak ubahnya dengan menjaga kesehatan itu sendiri. Kadang saat pekerjaan atau tugas  begitu banyak bertumpuk, saat kondisi hati sedang tidak bersinergi, makan atau minum saja sampai lupa waktu, bahkan harus diingatkan berulang kali. Jika sedang berada di rumah, mungkin saja orang tua khususnya ibu akan mengingatkan untuk segera mengambil makan. Jangan lupa untuk senatiasa menjaga kesehatan. Akan tetapi, jika sedang tidak di rumah, tidak ada cukup banyak teman atau sahabat yang mengingatkan, sudah pasti akan teledor.

  Karena manusia sejatinya banyak lupa, dan sebaiknya memang harus ada sosok yang tak lupa untuk mengingatkan atasnya. Diingatkan, juga saling mengingatkan. Akan tetapi, jika sudah diingatkan jangan sering-sering juga dilupakan. Saat diingatkan, maka harus pula ditanamkan serta direalisasikan. Mengingat saja tanpa disertai sebuah tindakan nyata, rasanya juga akan kembali lagi terlupa. Karena manusia sering lupa, tak terkecuali dengan saya.

Saat diberikan sebuah semangat, saat ada seseorang yang mengingatkan, seketika mungkin saja akan berubah menjadi lebih bersemangat dan teringat. Namun, entah bagaimana selanjutnya. Apakah akan kembali terlupa atau tetap terjaga. Tampaknya selain sosok pengingat, juga harus ada cara untuk mengikat agar tidak mudah terlupa. Salah satunya adalah dengan mencatat. Tanpa ada sebuah catatan, rasanya pesan akan mudah hilang dari ingatan. Seberapa kuat ingatan tanpa adanya sebuah catatan, rasanya semua itu akan mudah pudar dan luntur perlahan.

Tulungagung, 26 Februari 2021.