oleh: Alfin Arma
Kakung Munawir biasanya selalu mengajakku
dengan mas untuk melakukan ziarah kubur setiap satu minggu sekali. Berbekal
sepeda ontel butut yang terlihat sudah mulai berkarat. Namun, soal fungsi
rasanya tak kalah jauh dengan model sepeda keluaran terbaru dan kekinian. Hari Kamis
sore selepas waktu ashar. Itulah momen-momen kebersamaan kami kurang lebih 20
tahun yang lalu. Sebelum beliau berangkat ke tanah suci dan tinggal untuk
selamanya di area kompleks pemakaman masjid nabawi.
Ada hal yang terasa begitu manis dan
indah kala teringat momen kebersamaan dengan kakung dulu. Saat masih duduk di
bangku TK bahkan beberapa tahun sebelumnya. Setiap akan berangkat ke makam, aku
selalu minta duduk di bagian andang dekat setir yang sengaja beliau modif dengan
tambahan papan kayu. Sedangkan mas di bagian belakang.
Entah kenapa dan mengapa, rasanya begitu
beda saja. Tapi, saya menyukainya daripada duduk di posisi bagian belakang.
Mungkin jika di depan lebih leluasa untuk melihat jalan dan tentu akan tertiup angin
yang terasa begitu sepoi-sepoi. Sepeda kala itu memang masih cukup banyak
diminati. Karena selain tidak membutuhkan BBM, gratis, hitung-hitung olahraga,
dan karena memang belum punya kendaraan sendiri saja. Naik sepeda pun, rasanya
juga tidak kalah enaknya dengan naik motor.
Jarak tempuh antara rumah dengan makam
memang tidak terlalu jauh sebenarnya. Sekitar 2 sampai 3 km saja. Selain
membaca yasin dan tahlil saat di makam, biasanya beliau juga selalu mengajari
kami untuk membersihkan rumput-rumput liar yang sudah mulai menutupi dan
mengganggu. Yang kuingat hanya makam mbah Kunting, Pak H. Kholil, dan beberapa
makam lain yang aku sendiri juga kurang begitu paham itu siapa. Dulu sepertinya
beliau sudah menjelaskan, tapi lupa.
Selepas dari makam, kami tidak langsung
pulang begitu saja. Kadang bahkan sering, beliau mengajak kami untuk mampir dan
bersilaturrahim terlebih dahulu ke rumah saudara-saudara beliau. Dari rumah
mbak hingga adik. Karena kebetulan jaraknya tidak terlalu berjauhan.
Orang-orang dahulu biasanya memang selalu
berwasiat agar anak-anaknya tinggal bersebelahan saja. Anak ragil mbangkoni
rumah orangtua, yang lainnya dibantu membuat rumah di pekarangan sekitarnya.
Jika terjadi sesuatu atau membutuhkan pertolongan satu sama lain, mereka akan
selalu siap dan ada. Beliau selalu menanamkan arti penting untuk selalu menjaga
tali silaturrahim dengan seluruh anggota keluarga.
Di samping itu, karena hanya beliau
sendiri juga yang rumahnya kebetulan sedikit jauh sendiri jika dibandingkan
dengan saudara kandung lainnya. Yang pasti kalau sudah mampir dan mengunjungi
saudara, rasanya akan begitu sulit untuk segera pulang. Selain bincang
ngalor-ngidul, biasanya sekadar teh atau camilan pisang goreng selalu menjadi
pelengkapnya. Itulah alasannya mengapa tidak bisa segera untuk berpamitan
pulang.
Tidak di rumah mbak atau adik, beliau
selalu menyempatkan sejenak waktu untuk berkunjung. Karena bagi beliau anggota
keluarga itu sangat begitu penting adanya. Terlebih jika kesemuanya itu adalah
saudara kandung. “Lek kakung dolan mrene ndak bakalan mungkin iso
pamitan mulih cepet. Kabeh kudu diampiri disek ben ndak podo meri.” Karena hampir keseluruhan rumah saudara
kandung beliau begitu berdekatan.
Kediri, 27 Februari 2022.

0 Comments