Jalan-jalan ke Kota Patria... 

Jangan lupa mampir ke Desa Ngrejo... 

Kalau ingin lihat penampilan Kuda Tunas Budaya... 

Langsung saja ke rumah Bapak Sukoyo... 


Pengalaman di saat melakukan kuliah kerja nyata rasanya memang tak mudah untuk dilupakan begitu saja. Sebagai pihak atau pelaku yang terlibat secara langsung di dalamnya, tentu memiliki beragam kisah dan pengalaman tersendiri. Baik itu suka, duka, jengkel dan lain sebagainya. 

Berkesempatan melakukan pengabdian di wilayah timur selatan bumi Proklamator, membuat saya secara pribadi menemukan banyak perbedaan terkait ragam budaya dan kepribadian masyarakat setempat. Selain pula perbedaan letak geografis wilayah dan bentang alamnya. Sebuah daerah yang memang masih tampak begitu asri dan damai. 

Keramah-tamahan penduduk setempat memang tak perlu diragukan lagi. Salah satu ciri masyarakat paguyuban yang selalu menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong-royong, masih terlihat begitu terjaga dalam implementasi nilai kehidupan sehari-hari. Sebagai masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani atau penggarap ladang, keseharian mereka banyak dihabiskan untuk menggarap lahan dan merawat tanaman pertanian ataupun perkebunan. 

Topografi yang begitu mendukung untuk masyarakat mengandalkan roda perekonomian dari sektor pertanian dan perkebunan. Selain, adapula masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian mereka dari sektor peternakan. Sebagai salah satu contoh mudahnya, peternakan ayam petelur dan burung puyuh. 

Lahan pertanian atau ladang masyarakat yang terletak di area perbukitan serta masih terlihat begitu terjaganya kelestarian hutan sekitar, membuat bercocok-tanam menjadi salah satu penopang penting sumber perekonomian warga. Meski demikian, salah satu kendala yang begitu terasa adalah di saat masa-masa musim kemarau di mana masyarakat cukup kesulitan untuk mendapatkan air, terlebih untuk kebutuhan lahan pertanian atau perkebunan. Maka, tak ayal dikenali pula dengan sistem lahan tadah hujan. Di saat musim kemarau biasanya masyarakat lebih memilih untuk mempersiapkan lahan tanam. Mulai dari membersihkan rumput atau semak belukar kering, menebar pupuk-pupuk kompos dari kandang, serta jika dirasa telah mendekati musim penghujan mulailah dilakukan tabur benih (mbesang winih). 

Hal demikian dinilai lebih efektif mengingat pada musim kemarau memang tak ada banyak pilihan untuk berkutat pada sektor yang mengandalkan lahan. Jika dirasa pengairan dapat berlangsung, masyarakat tetap dapat melakukan cocok-tanam. Namun, jika kemarau datang dalam kurun waktu yang cukup panjang sudah pasti tak banyak pilihan tanaman yang dapat ditanam karena kurangnya pengairan lahan. 

Seiring berkembangnya kemajuan zaman dan teknologi, masyarakat berusaha untuk memanfaatkan bantuan mesin pompa air dan memperbanyak sumur bor baik untuk keperluan air bersih sehari-hari maupun mencukupi kebutuhan lahan pertanian. Di sisi lain, faktor kualitas ph air yang kurang laik untuk konsumsi karena dipengaruhi oleh faktor kondisi alam yang notabene banyak mengandung unsur bebatuan alam (kapur) juga menjadikan masyarakat harus berpikir dua kali ketika hendak memanfaatkan air sumur sebagai air konsumsi. Berbeda halnya dengan sekadar digunakan untuk keperluan mandi, mencuci pakaian atau peralatan makan. Kendati air tersebut dapat digunakan, umumnya masyarakat terlebih dahulu mendiamkan air yang baru diambil dari sumur beberapa hari. Agar kandungan zat-zat kapur yang terdapat di dalamnya dapat terlebih dahulu diendapkan. Kemudian, nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan kebutuhan konsumsi air minum oleh masyarakat. 

Berbanding terbalik, kualitas air yang mengandung zat kapur ini justru dimanfaatkan oleh mereka para peternak ayam petelur, karena air tersebut dapat dijadikan sebagai air minum ayam ternak mereka agar kualitas telur yang dihasilkan bagus dan memiliki cangkang yang lebih keras. Mengingat, bila kondisi cangkang telur yang dihasilkan oleh ayam lebih keras maka, potensi kerugian peternak akibat retak atau pecahnya telur semakin berkurang. 

Dusun Krisik Desa Ngrejo sebagai salah satu wilayah yang termasuk dalam Kecamatan Bakung Blitar memang menjadi salah satu dari sekian desa yang cukup terkenal karena peternakan ayam petelurnya. Hal itu tampak secara langsung dari banyaknya kandang-kandang ayam petelur maupun burung puyuh yang terdapat di area lahan dekat pemukiman penduduk setempat. 

Kontur lahan serta lingkungan yang cukup mendukung, mengingat jarak peternakan dengan rumah warga masih terbilang cukup jauh. Di samping pula kondisi lingkungan (hutan) masih cukup terjaga baik, yang secara tidak langsung dapat membantu menekan terjadinya polusi udara yang dihasilkan dari kotoran hewan ternak. 

Daerah yang terletak di wilayah pesisir timur selatan Kota Patria memang terkenal dengan pesona alam dan pantainya. Seingat saya, jika telah memasuki wilayah Bakung atau Wonotirto dengan mudah kita dapat berkunjung ke area wisata alam seperti air terjun maupun pantai. Meski keindahan alamnya tak diragukan lagi, ada hal yang saya kira tak kalah jauh lebih cantik dan indahnya. Yakni, adat-istiadat yang masih tampak begitu terjaga dengan baik serta budaya Jaranan (Jaran Kepang).


Hampir setiap pekan selalu terdapat kegiatan pentas seni Jaranan. Seolah sudah menjadi sebuah kebutuhan masyarakat sekitar. Terlebih, era disrupsi 4.0 ini nampaknya tak begitu berpengaruh besar terhadap kelestarian budaya Nusantara yang satu ini. Padahal, dalam kurun waktu sekitar 15-20 tahunan yang lalu budaya Jaranan ini masih tampak begitu mempesona di masyarakat daerah Tulungagung, namun kemajuan zaman dan budaya masyarakat modern nampaknya perlahan sudah mulai menggesernya. 

Meski demikian, budaya semacam Reog Kendang, Tiban, Temanten Kucing, Larung Laut, dan sejenisnya nampaknya masih cukup terjaga. Tanpa adanya sebuah upaya pelestarian dan kecintaan masyarakat terhadap warisan adat-istiadat leluhurnya, lambat laun kesenian tersebut pasti akan tergusur oleh derasnya arus kemajuan zaman. Lebih-lebih, para pemuda atau generasi penerus bangsa tak ada yang menggeluti dan peduli. 

Kembali lagi bahwa sektor pertanian dan perkebunan memang menjadi tumpuan utama masyarakat Bakung, khususnya desa Ngrejo tempat saya melakukan pengabdian. Lahan-lahan yang masyarakat setempat miliki memang terbilang cukup luas. Meski secara pribadi saya sendiri kurang begitu paham, apakah lahan tersebut milik perorangan atau sebagian milik Perhutani yang disewakan dan boleh digarap oleh masyarakat setempat dengan sebuah perjanjian. Karena sebagian besar wilayah di daerah sana tergolong subur, komoditi pertanian seperti halnya dengan jagung, singkong, pisang, palawija, maupun tanaman tebu tergolong sebagai salah satu tanaman primer. 

Selain pula tanaman kelapa yang masih melimpah ruah, di mana hampir setiap pekarangan rumah memiliki pohon kelapa sendiri. Hasil olahan seperti minyak goreng (klentik), kopra, maupun yang sekadar digunakan sebagai santan untuk masakan sehari-hari. Hampir secara keseluruhan pohon kelapa di wilayah ini masih utuh dan bebas dari serangan hama (kwawung). Selain beberapa produk di atas, sebagian kecil masyarakat juga memanfaatkan air nira kelapa untuk digunakan sebagai gula merah kelapa. Adapula inovasi produk sebagaimana yang dicetuskan oleh Kepala Desa Ngrejo yakni beliau Bapak Imam, dengan mengolah santan kelapa sebagai bahan pembuatan VCO (Virgin Coconut Oil) atau minyak kelapa murni yang dihasilkan tanpa menggunakan proses pemanasan. Lebih tepatnya hanya dengan melakukan proses fermentasi alami santan kelapa selama kurang lebih sehari semalam. 

Proses itu nantinya akan menjadi tolok-ukur keberhasilan terhadap proses pembuatan minyak VCO. Apakah berhasil atau sebaliknya, sekadar tetap menjadi santan beku biasa. Namun demikian, apabila proses ini gagal sisa atau ampas fermentasi nantinya tetap dapat digunakan untuk membuat minyak goreng (klentik) dengan ampas kering yang dihasilkan dalam bentuk berupa padatan yang terasa gurih yakni dikenal dengan istilah blondo. Makanan ini rasanya cukup sering saya nikmati sekira usia 8 tahunan atau saat awal usia sekolah dasar. Di mana saya cukup paham betul dan mengetahui proses pembuatannya dari Budhe. Sejatinya, blondo ini hanya sekadar sisa atau ampas dari minyak klentik yang sudah jadi. Namun, karena rasanya yang begitu khas, cukup menjadikannya sebagai salah satu makanan yang populer pada masanya.


Tulungagung, 15 Juni 2022.