Persiapan Menuju Lokasi KOPDAR
Ahad 7 Agustus 2022, pukul 22.02 WIB. Sesungguhnya saya tidak mampu membohongi diri sendiri. Mata yang sudah tinggal beberapa _watt_ dan kepala yang cukup terasa berat. Mengingat, selepas pulang dari kegiatan Kopdar menjelang subuh tadi karena cuaca yang sedikit gerimis saya dengan mas Thoriq dan mas Roni menyengaja terlebih dahulu untuk sholat subuh di masjid *mbah Dul* dan merehatkan tubuh sejenak. Hingga sekitar pukul 6 kurang sedikit, kami bertiga berinisiatif untuk mencari nasi pecel di sekitar Plosokandang terlebih dahulu. Rencana awal, kami ingin menikmati waktu sarapan pagi di warung nasi pecel Gragalan barat perempatan lampu merah Gragalan. Sayang, ternyata masih tutup.
Tak berhenti di situ, karena masih gerimis akhirnya mas Roni berinisiatif dan menawarkan pilihan untuk menikmati sarapan pagi di sebuah warung nasi pecel "Mbok Modin" tepat di sebelah barat-utara masjid mbah Dul. Karena kami lihat warung sudah buka, akhirnya kami pun segera bergegas untuk bersantap pagi di sana. Bagi saya secara pribadi, apapun menu santap pagi rasanya semua akan terasa nikmat terlebih jika menikmatinya secara bersama-sama. Baik dengan sahabat maupun keluarga. Apalagi di tengah gerimis dan dinginnya suasana pagi.
Penat di badan atau mungkin keju-keju selepas perjalanan jauh sebenarnya tak begitu terasa. Hanya saja, sekali lagi mata dan kepala yang sudah terasa berat tak dapat dibohongi. Karena, bagaimanapun hari Ahad malam ba'dha maghrib di rumah bertepatan dengan acara haul mbah dan pakpuh. Mau tak mau, walaupun tak cukup banyak pekerjaan yang dapat saya bantu, saya tetap menyempatkan untuk membantu persiapan acara yang akan dilaksanakan ba'dha maghrib nanti. Di satu sisi, rasanya 'tidak enak' dengan kerabat yang lain, karena bertepatan kali ini kegiatan dilaksanakan di rumah. Yang lain saja menyempatkan waktunya untuk mempersiapkan acara masak tuan rumah justru tidak kelihatan batang hidungnya.
Syukur Alhamdulillah, kegiatan berjalan dengan lancar dan undangan yang hadir pun dapat saya pastikan hampir 98%.
Selepas acara, tentu tak selesai begitu saja dan dapat segera beristirahat karena selain kerabat yang masih cukup banyak di rumah, tentu hal yang utama adalah bersih-bersih selepas kegiatan selesai.
Niatan saya untuk segera tiduran dan merebahkan badan rasanya tak segera dapat terwujudkan. Melihat grup Kopdar yang sudah bertumpuk banyak pesan seputar catatan rihlah para sahabat dan senior Sahabat Pena Kita, rasanya saya sudah ketinggalan catatan demi catatan yang begitu berharga. Tak mau ketinggalan, saya berusaha untuk segera membuka aplikasi WPS di ponsel untuk segera memulai mengabadikan setiap kesan dan pengalaman selama Kopdar di Bondowoso kemarin. Karena, saya menyadari bilamana perjalanan ini tak segera mungkin diabadikan, rasanya ingatan saya tak begitu kuat dan akan terlupakan perlahan.
Momen kopdar ke-9 kali ini memang cukup terasa berbeda dengan kopdar yang sudah pernah terlaksana sebelumnya. Tepatnya, ini adalah kali kedua saya pribadi bergabung secara langsung di dalamnya. Berlokasi di pondok pesantren Al-Ishlah dan Darul Istiqomah Bondowoso, Sabtu 6 Agustus 2022. Perjalanan kami awali dari titik lokasi kampus UIN SATU Tulungagung. Sekitar pukul 11.00 WIB pada hari Jum'at 5 Agustus 2022.
Rihlah kali ini tidak sekadar perjalanan biasa atau liburan semata. Melainkan, demi menyukseskan terlaksananya kegiatan KOPDAR Sahabat Pena Kita sekaligus momen pemilihan nahkoda baru Sahabat Pena Kita periode 2022-2024. Selain itu, rihlah ini saya maknai sebagai sebuah perjalanan spiritual karena bertepatan pelaksanaan kegiatan yang berada di dua lokasi pondok pesantren yang cukup ternama di wilayah Bondowoso Jawa Timur.
Sebelum membahas seputar kesan dan banyaknya pengalaman baru yang saya dapatkan, jika boleh saya jujur ini adalah perjalanan terjauh saya ke ujung timur pulau Jawa. Ada sebuah peribahasa Jawa _"Kalah karo sobone endok"._ Saya menyadari betul, bahwa ini adalah kali pertama saya menginjak tanah Bondowoso dan sekitarnya. Yang paling sering hanya di wilayah Malang Raya.
Jika dari ujung timur yang paling jauh hanya di sekitar wilayah Malang Raya, Surabaya, sedangkan di wilayah barat di daerah Kudus, Demak, Yogyakarta, atau di wilayah Pantura yakni kota Lamongan.
Selama kurang lebih hampir 1/4 abad ini, mungkin hanya berkutat di wilayah itu-itu saja. Maka, sepenuhnya saya menyadari bahwa 'sobo paran' saya masih kalah jauh dengan kisah perjalanan telur ayam yang telah menembus ujung timur, barat, selatan, utara pulau Jawa. Bahkan, sampai di wilayah luar pulau Jawa.
Jika saya orang Indonesia, ternyata di wilayah pulau Jawa saja saya belum jajah semuanya. Bahkan tak perlu menyebut pulau Jawa, di kawasan Tulungagung saja belum tentu semua desa sudah pernah saya kunjungi. Memang, ternyata saya masih kalah dengan 'Sobo Endok'.
Instruksi Jauh Hari Menuju Bondowoso
Prof. Ngainun Naim memberikan instruksi untuk berkumpul di titik kampus UIN SATU Tulungagung pada pukul 10.00 WIB, mengingat jarak perjalanan dari Tulungagung menuju Bondowoso terbilang cukup jauh dan lama. Jika perjalanan dapat berlangsung cepat melalui jalur tol Malang-Probolinggo, kurang lebih membutuhkan waktu 7½ sampai dengan 8 jam perjalanan. Tentu, jarak perjalanan semacam ini tak dapat ditempuh secara maraton. Dibutuhkan minimal 2 atau bahkan 3 kali istirahat baik itu untuk kendaraan maupun badan. Kendaraan bermesin saja yang digunakan untuk menempuh jarak jauh secara berturut-turut capek, bagaimana dengan seorang manusia. Lelah, ngantuk, keju, lapar, itu adalah hal yang lumrah.
Oleh karenanya, beristirahat sejenak adalah cara yang ampuh baik untuk menghilangkan kantuk, atau sekadar untuk menikmati seduan teh maupun kopi, serta sedikit mendinginkan mesin kendaraan. Terhitung 2 kali sebelum sampai di kota tujuan, rombongan kami berhenti di sebuah rumah makan di area barat Kabupaten Malang dan di sebuah Depot Blitar yang terletak di jalan raya Situbondo sebelum rombongan kami sampai di Pondok Pesantren Al-Ishlah sebagai tempat tujuan kegiatan Kopdar ke-9 Sahabat Pena Kita.
Perjalanan yang cukup terasa lama, bahkan saat berada di jalan tol Malang-Probolinggo serasa tak ada habisnya. Jum'at sore kemarin itu, jalanan sebenarnya cukup lengang selama berada di jalan tol bahkan dapat dikatakan cukup sepi. Pemandangan pegunungan yang menjulang tinggi serta sinar mentari menjelang senja yang begitu memesona. Rasanya semua itu menjadi saksi abadi yang mungkin tak akan pernah terlupakan begitu saja.....
*Catatan Pertama
Tulungagung, 8 Agustus 2022.

0 Comments