oleh: Muhammad Alfin
Pukul telah menunjukkan 23.45 WIB, tak sengaja saya membuka dompet
untuk memasukkan resi pengiriman paket sore tadi. Di sela saku dompet saya menemukan kupon parkir kendaraan kala mengikuti kegiatan OPAK
tahun 2015 lalu. OPAK, OSPEK, atau istilah sekarang PBAK (Pengenalan Budaya
Akademik dan Kemahasiswaan). Kurang lebih 7 tahun sudah momen itu berlalu. Padahal dalam
benak terasa masih seperti kemarin. Begitu cepat rasanya waktu bergulir.
Melihat momen PBAK kampus UIN SATU tahun 2022 ini, saya mengakui
betul betapa perubahan dari segala dimensi begitu terasa nyata terjadi. Dari
segi kuantitas mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan jelas jauh lebih banyak, kurang
lebih hampir mendekati angka 5000 mahasiswa. Sedangkan, angkatan saya pada
tahun 2015 hanya sekitar 3000 an mahasiswa. Terhitung hampir 2x lipat
peningkatan jumlahnya.
Dari sisi manajemen PBAK, rundown acara, sarpras yang ada terasa
sudah lebih modern. Tak seperti angkatan kami, di mana panggung orasi masih
terbuat dari tiang-tiang bambu. Peserta OPAK wajib mengenakan capil pak tani,
serta membawa bendera yang diikatkan pada tongkat bambu kuning, karena tak ada
bambu kuning dengan sengaja saya dahulu menggantinya dengan bambu ori yang sudah
mengering, sekilas juga terlihat sama dengan bambu kuning. Karena tak
mau ambil pusing, yang penting semua persyaratan mengikuti kegiatan OPAK telah
terpenuhi.
Nasi tiwul lauk ikan teri merupakan menu
santap bersama kami. Semua serba sederhana, menu masakan desa, serta unsur hasil bumi lainnya menjadi nilai tersendiri. Harus berkalung jagung, bawang putih-merah,
lada-merica, adalah sebuah aset yang begitu berharga bagi kami. Jika tidak
membawa atau bahkan tak lengkap salah satu komponennya saja, kami bisa babak
belur kena semprot kakak-kakak pendamping. Betapa tidak, karena semua itu
sejatinya adalah filosofi aset kekayaan Indonesia yang begitu luar biasa, bahkan sampai dilirik
oleh negara lain yang sekaligus menjajah Indonesia. Karena, mereka paham betul
bahwa kesemuanya itu adalah komoditas utama perdagangan dunia pada masanya.
Seolah masih terkesan jadul, khas dengan nuansa perpeloncoan terhadap adik-adik mahasiswa baru, atau mungkin sekadar ajang ‘balas dendam’ karena para
senior yang dahulunya juga telah merasakan apa yang sedang kami rasakan, kala
itu. Namun, saya menilai bahwa kesemua bentuk tindakan itu tak lain dilakukan untuk
mengingatkan kami semua akan aset kekayaan Indonesia yang tak boleh
disia-siakan begitu saja. Dan yang terpenting, ada jirih payah tangan para
petani yang begitu hebatnya dalam memenuhi sektor kebutuhan dasar negara terkait pangan yang tak boleh begitu saja dilupakan.
Tak akan mungkin kestabilan suatu negara dalam berbagai sektor
terpenuhi, apabila sektor dasar berupa pangan juga tak dapat terpenuhi. Terlebih
Indonesia yang notabene sebagai sebuah negara kepulauan, negara agraris, yang
seharusnya dalam hal kebutuhan pangan tak lagi harus import dari sana-sini,
melainkan membuka keran ekspor pangan seluas-luasnya dan sejauh mungkin dalam
berbagai lintas negara di seluruh penjuru dunia.
Kembali pada inti terkait dengan PBAK, bahwa sepanjang sudut
pandang penulis peradaban yang ada sudah jauh lebih modern. Kesan humanis,
religius dan beradab adalah sebuah nilai tersendiri yang diusung oleh kampus UIN Sayyid Ali
Rahmatullah Tulungagung yang juga merupakan pelopor kampus Dakwah dan Peradaban. Nuansa
perpeloncoan, kekerasan, bukan lagi masanya. Semua mahasiswa telah pintar, semua mahasiswa telah dewasa dan melek digital. Hal-hal yang bersifat kreatif, inovatif dan positif
serta-merta harus dikedepankan. Untuk mewujudkan sebuah peradaban yang lebih santun dan
berkemajuan.
Tulungagung, 21 Agustus 2022.

0 Comments