Oleh: Alfin Arma
"Sejatinya menghadiri undangan saudara dan teman adalah bagian dari ibadah. Karena wujud implementasi hablum minannaas."
Ya demikianlah kira-kira pesan penting yang hari ini dapat saya ambil dari salah seorang adek tingkat kuliah yang begitu luar biasa. Alumnus UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, yang kebetulan juga mendalami prodi yang sama dengan saya, yakni Hukum Keluarga Islam. Tak perlu saya menyebutkan siapa dia, semoga yang bersangkutan membaca. Minimal yang dekat dengan saya atau beliau paham. Hehe...
Memasuki bulan Safar, bertepatan pula dengan banyaknya undangan pernikahan. Baik dari kerabat atau sahabat. Hampir keseluruhan teman sepantaran bercerita, bulan ini undangan pernikahan bebarengan di mana-mana. Siang ada undangan, sore ada undangan, malam pun juga masih menghadiri undangan. Satu guyonan yang saya rasa umum dilontarkan, "sekarang menghadiri undangan pernikahan teman, sahabat, kerabat, terus sampean kapan?" Kapan ya kira-kira? Lupakan sejenak soal ini.
Kebetulan yang sebenarnya juga bukan kebetulan. Karena sebenarnya tidak ada kata kebetulan di dunia ini. Mungkin itulah yang dinamakan takdir menjelma sebagai sebuah kebetulan. Intinya semua tidak lepas dari Kuasa Tuhan, begitu saja mudahnya.
Tepat siang tadi, kami bertiga menghadiri undangan dari salah seorang teman kuliah. Semoga berlimpah berkah untuk mbak Aulaa Mashfiyatul Azimah dan mas Bekti Pramugiarno. Sakinah, mawaddah, wa rohmah. Aamiin.
Tadi malam memang mas Ali sempat menyinggung terkait bagaimana baiknya besok kita menghadiri undangan resepsi ini. Apakah sesuai jam pada undangan, selepas acara, sore atau malam. Namun, saya pribadi belum bisa memberikan jawaban yang pasti. "Kondisional saja mas," saut saya. Seandainya bisa pagi ya ikut pagi, atau selepas dhuhur saja. Sembari menunggu kabar dari kawan yang lainnya. Barangkali ada yang mau bareng sekalian. Mengingat, masing-masing sudah repot dengan tugas dan tanggungjawab mereka. Secara umum, mungkin ba'dha dhuhur atau ashar sekalian adalah waktu yang tepat untuk datang.
Saya pribadi baru bisa memastikan berangkat dhuhur tadi, "kira-kira paling lambat pukul 14.00 WIB kita berangkat." Membalas pesan mas Ali dan juga Ibnu. Mereka ini adalah kawan saya selama kuliah S1 di UIN SATU. Teman rasa sahabat, sahabat rasa kerabat. Begitulah kira-kira saya merasakannya.
Akhirnya kami bertiga sepakat untuk berangkat dari titik kumpul pom bensin timur kampus, paling lambat pukul 14.00 WIB. Meski, pada akhirnya tadi baru berangkat sekitar pukul 14.40 WIB. Ngobrol sebentar tapi agak lama, mungkin karena saya terlambat berkumpul sekitar 10 menitan. Yang 5 menitan untuk sekalian antre mengisi BBM terlebih dahulu. Maklum lah, pasca harga BBM dinaikkan, kog justru malah sedikit antre panjang. Padahal sebelumnya biasa-biasa saja. Tidak terlalu banyak antrean kendaraan, mungkin hanya antrean truk dan mobil berbahan bakar bio-solar, karena sedikit langka dan penggunaannya sengaja dibatasi.
Selepas itu, akhirnya kami putuskan untuk segera bergegas menuju lokasi resepsi. Paling tidak nanti ba'dha ashar kita sudah selesai. Atau barangkali saat bertemu dengan teman yang lainnya, masih ada cukup waktu untuk ngobrol ngalor-ngidul mengingat akhir-akhir ini kami sudah jarang sekali bertemu. Sekali pun ada percakapan di grup, itu hanya sekilas. Selepasnya grup kelas sudah mati suri kembali.
Beberapa kali candaan saya dengan mas Ali, "ini adalah masa-masa di mana kita harus mencari jalan hidup kita sendiri. Semua telah sibuk dengan urusan dan pekerjaan masing-masing, atau dengan keluarga kecil mereka. Selamat berjuang di jalan mu kawan."
Menyempatkan sejenak waktu untuk kunjung-temu, rasanya memang terasa begitu sulit. Lebih sulit daripada sekadar melobi jadwal kuliah, dulu. Tak dapat dinafikkan, karena tidak semuanya mukim di Tulungagung. Belum lagi mereka yang sudah bekerja, berkeluarga. Jam longgar saya, tak sama dengan jam longgar mereka. Jam longgar mereka, tak sama dengan jam longgar kami. Begitulah seterusnya.
Ba'dha ashar tadi, saya coba putuskan untuk menjapri mas Wahyu dan gus Naib. Jika sekiranya nanti selepas mereka menghadiri undangan ada waktu longgar, tak ada salahnya seandainya kita ngopi bersama terlebih dahulu. Ngobrol tipis-tipis, diskusi tentang masa depan dan sharing pengalaman. Saya rasa itu bernilai maslahah, bukan masalah. Hitung-hitung sambil nostalgia semasa kuliah S1 dulu.
Karena kami menghadiri undangan tidak bersamaan, saya putuskan dengan mas Ali untuk menunggu terlebih dahulu di masjid "Mbah Dul" sekalian sholat maghrib dan isya'. Barangkali mereka sampai di area kampus selepas isya' karena sebelum berangkat ke Podorejo mas Wahyu dan gus Naib sempatkan untuk mampir di Pucanglaban, di kediaman mas Lubis. Sampai pada akhirnya takdir mempertemukan kami berlima (saya, Ali, Naib, Lubis dan Wahyu) di masjid "Mbah Dul" untuk seterusnya dilanjutkan dengan agenda ngopi bersama di dekat area kampus. Meski judulnya ngopi, ternyata saya memilih untuk menikmati susu jahe. Hitung-hitung untuk menghangatkan badan di tengah semilir angin malam, tanah Peradaban, Plosokandang.
Edisi cerita ngalor-ngidul semoga dapat tersaji dalam tulisan selanjutnya. Maklum, mata tinggal 2 watt. Hehe...
Selamat beristirahat.
Tulungagung, 25 September 2022.

0 Comments