"Tanpa adanya sebuah jejak tulisan (dokumen valid) sejarah akan hilang diterpa arus zaman." Alfin


     Hingga detik ini, Senin 06 Maret 2023/13 Sya'ban 1444 H pukul 00:36 WIB. Tidak ada satu pun yang tau secara pasti kapan masjid Pringo yang terletak di dusun Mayangan, desa Srikaton, kec. Ngantru, Kabupaten Tulungagung ini berdiri.

     Ada sumber yang mengatakan bahwa masjid ini telah berdiri sejak sekitar tahun 1780an M (Alm. H. Ghufron Azhari/Buyut Alm. KH. Hasan Marwidhi). Adapula yang menyebutkan kurang lebih berdiri sekitar tahun 1870an M, atau lebih tepatnya 1876 M (Abdul Hadi Joko Sudarsono/Canggah Alm. KH. Hasan Marwidhi). Masyarakat sekitar secara umum menceritakan, bahwa masjid ini telah ada dan berdiri seiring dengan berdirinya masjid Majan (Masjid KH. Hasan Mimbar), Majan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Yang mana ditengarai sebagai salah satu dari sekian masjid tertua yang terletak di wilayah Kabupaten Tulungagung. Atau dengan kata lain, Masjid Pringo ini merupakan masjid paling tua yang terletak di wilayah Kecamatan Ngantru. 

     Masjid Pringo atau nama lain dari Masjid Jami' Daruttaaibiin sendiri, dahulu didirikan pertama kali oleh Alm. KH. Hasan Marwidhi dengan istri beliau yang bernama Almh. Nyai Siti Khadijah. Yang mana beliau (KH. Hasan Marwidhi) berasal dari wilayah Purworejo Jawa Tengah dan beliau (Nyai Siti Khadijah) berasal dari wilayah Joresan Ponorogo Jawa Timur. Sebelum menjadi masjid sebagaimana sekarang, dahulu sekadar sebuah langgar kecil yang terbuat dari kayu dan bambu. Sebelum dibangun dan diperlebar oleh KH. Imam Abdullah (H. Abdul Kholiq). 

     "Sejak masa penjajahan Belanda, pokoknya masjid ini juga sudah ada." Begitulah kira-kira kesaksian dan penuturan tokoh-tokoh sepuh setempat. Apabila dihitung keberadaan masjid ini sudah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Selain itu, proses pembangunan dan pengembangan masjid ini juga tidak lepas dari pengaruh dan campur tangan KH. Imam Abdullah (Putra KH. Hasan Marwidhi) beserta istri beliau Nyai Hj. Ruminten, Kemudian KH. Ridwan (Cucu KH. Hasan Marwidhi) beserta istri beliau Nyai Nur Syamsiyah, KH. Mahfudz beserta Ibu Nyai Hj. Muslihah, KH. Hasan Ma'lum sekalian, Kyai Zuhdi Dahlan, beserta seluruh kerabat/keturunan KH. Hasan Marwidhi, juga tokoh masyarakat sekitar (Pringo). Di mana sempat pula mengalami pemugaran untuk pertama kalinya pada kepengurusan H. Ghufron Azhari (tahun 2000 M). Dan sebelum kepengurusan beliau, sempat pula ada sedikit perombakan pada beberapa bagian masjid pada masa kepengurusan takmir H. Imam Ghazali (di bawah sekitar tahun 1990an M).
 
     Dahulunya wilayah Pringo ini merupakan sebuah lingkungan (rumah KH. Hasan Marwidhi) yang begitu banyak dikelilingi oleh pohon-pohon bambu (pring) & pohon dringo, di mana pada akhirnya dinamakan "Pringo", karena diambilkan dari penggabungan kedua nama tanaman yang banyak tumbuh subur di wilayah ini dahulunya. Selain itu, di sekeliling masjid ini dulu juga banyak sekali tanaman sawo serta buah mundhu. Namun, untuk saat ini keberadaannya sudah tidak lagi ada.

     Pada masa peperangan antara Bangsa Indonesia melawan pihak penjajah Belanda secara khusus pada saat perang Diponegoro, banyak orang-orang abdi dalem atau kasultanan, pasukan Pangeran Diponegoro yg melarikan diri agar selamat dari kejaran pihak kolonial dengan menyelamatkan dan mengasingkan diri ke wilayah Jawa bagian Timur. Salah satunya seperti daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Blitar, dan sekitarnya. Dan sebagai tandanya orang-orang terdahulu mendirikan masjid bersamaan dengan menanam pohon sawo di sekitarnya, sebagai tanda bahwa itu masih merupakan kerabat atau sahabat seperjuangan saat melarikan diri dari kejaran pihak penjajah.

Wallahua'lam.
         
                       Ditulis di Pringo Srikaton Ngantru Tulungagung, pada tanggal 17/02/2019. Diperbarui oleh penulis pada tanggal 06 Maret 2023/13 Sya'ban 1444 H. Dan dimungkinkan pula pembaruan tulisan pada tahun-tahun berikutnya.