Oleh: alfin arma

     Dengan begitu cekatannya kang Thohari mengabadikan setiap moment penting dan sakral itu. Pun, dengan berbagi tugas dengan diriku. 

     Aku yang bertugas untuk mengambil foto, sedangkan beliau yang mengabadikan dengan video. Satu-persatu prosesi jangan sampai ada yang terlewati. Mengingat, moment bersejarah ini hanya terjadi sebatas sekali.

     Di sisi lain, baterai ponsel bututku juga terus kejar-kejaran dengan waktu. Karena sebentar lagi sepertinya akan lowbat. Karena terus dipacu oleh maps, pada saat perjalanan tadi itu.

     Sebuah perjalanan menjemput sesosok nama yang telah digariskan sebagai jodoh suci, sehidup-semati. Yang selama ini penuh misteri, sebagai suratan Ilahi.

     Kisah perjalanan & perjuangan menjemput jodoh bagi masing-masing insan yang telah menemukan tambatan hatinya, tentulah memiliki alur cerita yang berbeda-beda.

     Ada kisah yang begitu mudah dan tidak terduga sebelumnya, dalam menemukan tambatan hatinya. Adapula yang menemui jalan terjal dan berliku saat proses pencarian tambatan hatinya. Dan masing-masing memiliki makna tersendiri di baliknya.

     Sepenggal kisah perjalanan dan perjuangan salah satu saudaraku dalam menemukan tambatan hatinya, sebagaimana yang telah kutuangkan dalam tulisan episode sebelumnya. Bagiku kisah tentang proses pencarian jodoh beliau, sangat sayang apabila tidak diabadikan melalui sepenggal tulisan.

     Menemukan tambatan hati yang dinilai tepat dan sesuai dengan keinginan hati masing-masing insan, memang tidaklah semudah mencari atau membeli sebuah barang. Dan sudah pasti tidak dapat disamakan dengan apapun.

     Jodoh, rezeki, pati, semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Ilahi Rabbi. Apa yang sekiranya tampak baik bagi seorang insan, belum tentu demikian menurut Tuhan. Namun, apa yang baik menurut-Nya sudah pasti itu yang terbaik untuk masing-masing insan.

     Bak sebuah misteri Ilahi. Kedatangannya tidak dapat diprediksikan sebelumnya. Tidak dapat untuk disegerakan, apabila belum waktunya untuk datang. Tidak dapat diundur, apabila sudah saatnya tiba. Sekali lagi, bagiku bak sebuah misteri dan teka-teki dari Sang Ilahi.

     Menemukan tambatan hati yang selama ini telah dicari oleh saudara laki-laki ku, memang dapat dikatakan menemui sedikit jalan liku. Tidak selalu lurus dan mulus begitu saja. Ada ujian-ujian yang harus ditaklukkan dengan penuh kesabaran.

     Menemui kegagalan dalam sebuah perjalanan kehidupan, rasanya menjadi hal yang lumrah dan hampir dialami oleh seluruh insan di dunia. Tak terkecuali kegagalan dalam menjalin suatu hubungan.

     Mencari sosok idaman yang dinilai sempurna dalam segala bidang, merupakan sebuah angan yang cukup sulit terealisasikan. Mengingat, sosok kita hanya sebatas manusia biasa. Penuh dengan celah dimana-mana. Sampai ujung waktu, rasanya sangat sulit untuk berujung temu.

     Masing-masing insan Tuhan ciptakan dengan segala bentuk kelebihan dan kekurangan. Saat telah menikah disitulah bagaimana kekompakan suatu pasangan diuji. Apakah masing-masing mampu untuk saling melengkapi, atau justru sebaliknya. Merasa bahwa salah satunya lebih unggul, atau bahkan merasa lebih rendah dan tidak sekufu dengan pasangannya.

     Perjalanan dan perjuangan saudaraku dalam menjemput jodohnya di tengah masa pandemi semacam ini, memang kurasakan cukup berbeda dengan prosesi akad di masa normal sebagaimana sebelumnya dahulu.

     Dikarenakan rumah asal beliau yang cukup jauh dari wilayah Jawa bagian Barat, dengan cukup berat hati mau tidak mau dalam prosesi akad pernikahannya kemarin tidak didampingi secara langsung oleh kedua orangtua beliau.

     Kendati seluruh kerabat yang ada di Tulungagung sini, termasuk diriku, masih berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung prosesi akad yang telah dilangsungkan secara hikmat & sakral itu. Namun, tetap saja ada yang terasa kurang lengkap (dalam benakku).

     Tetapi mau bagaimana lagi, keadaan yang mengharuskan demikian. Di sisi lain kecanggihan teknologi di zaman sekarang ini juga terasa cukup membantu. Walaupun, hanya sebatas temu secara virtual. Namun, tidak sedikitpun mengurangi kesan sakral.

     Bagi diriku secara pribadi, apakah mungkin aku bisa menjalani semuanya andaikata aku berada dalam posisi semacam ini. Di sebuah kota yang cukup jauh dari rumah, kedua orangtua, juga saudara, di saat itulah aku menjalani akad pernikahan.

     Beliau merupakan salah satu sosok yang begitu luar biasa. Sosok yang begitu tegar dan sabar, dalam penantian panjang menjemput jodohnya.

     Kini beliau telah menemukan sosok idamannya. Sesosok nama yang telah digariskan untuk mendampingi dan melengkapi kisah perjalanan hidupnya. Dalam sebuah ikatan janji suci, guna membina mahligai rumahtangga.

     Tiada kalimat yang tepat terucap untuk keduanya, selain sebuah harapan dan do'a yang terbaik untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kelanggengan ikatan suci pernikahannya.