Oleh: alfin arma
  "An-nikahu huwa sunnati faa man raghiba 'an-sunnati falaitsa minni." (Al-Hadits). Menikah adalah sebagai salah satu sunnah mulia Rasulullah Muhammad SAW., bagi siapapun ia yang dinilai telah mampu dalam hal menjalankannya.
  Berkaitan dengan salah satu moment penting ini, tak lupa akan aku tuangkan kisah salah seorang sahabat juga kerabat. Beliau bernama Muhammad Iik Syaropah. Kendati bukan sebagai saudara kandung, kedekatan di antara kami sudah melebihi saudara kandung sendiri.
  Rabu, 12 Agustus 2020. Malam itu dapat kubilang sebagai salah satu malam yang sangat begitu berharga dan tak mungkin kulupa. Tepat pada malam itu, aku berkesempatan secara langsung mendampingi dan membantu persiapan menuju hari H dalam agenda menjemput jodoh sejati beliau.
  Tepatnya, malam itu aku berkesempatan untuk secara langsung singgah di desa Bandung Tulungagung. Tempat dimana beliau mengabdi. Di sebuah sekolah yang cukup elite "al-Azhar" namanya. Tentu, sudah tidak asing lagi di telinga.
  Sebuah malam yang sangat mendebarkan dada. Bagaimana tidak, sebab esok adalah hari yang paling bersejarah sepanjang masa. Dimana akad dilaksanakan, janji suci sehidup-semati diucapkan dan disaksikan oleh para wali dan saksi.
  Segala sesuatunya harus dipersiapkan dan direncanakan dengan sebaik mungkin, berharap agar segala sesuatu berjalan dengan lancar serta tidak ada satupun yang terlewati di pelaksanaan akad nanti. Kendati pada malam itu tidak terlalu banyak hal yang kulakukan, sebatas sedikit membantu berkemas segala sesuatu yang harus dibawa nanti. Adapun berkaitan dengan seserahan, tampak sudah begitu siap dan tertata rapi.
  Setelah semua persiapan dirasa telah cukup, segera saja aku suruh beliau untuk segera siap-siap beristirahat. Agar besok tidak ada yang terlambat. Meskipun demikian, di kisaran pukul 23.00an lebih kedua bola mataku belum kunjung terpejam. Sembari aku sambi menyetrika baju untuk akad besok itu. "Apa ya kira-kira yang masih terlupa dan belum terbawa untuk akad besok?." (Suara lirih hatiku)
  Juga tak lupa untuk mengatur nada alarm agar besok dapat terbangun tepat waktu. Kedua ponsel kami telah diatur dengan sedemikian rupa. Sampai di kisaran pukul 23.30an aku juga segera menyusul untuk beristirahat. Sambil terus terbayang dan kepikiran tentang akad suci besok itu. Beliau yang akan menjalani akad, mengapa aku juga jadi ikut kepikiran dan deg-degan ya?
  Dengan mata yang sudah terasa cukup berat, akhirnya akupun dapat tidur pada malam itu. Singkat saja, di kisaran pukul 03.00 WIB alarm ponsel telah berbunyi. Tepat pada saat itu pula akupun juga ikut terbangun mendengarkannya. Namun, saat aku melihat saudaraku, tampaknya beliau masih cukup terlelap. Dan aku sendiri juga tidak dapat menafikan tentang apa yang beliau rasakan dan pikirkan, sebelum akad pernikahannya telah benar-benar dilaksanakan.
  Sekira pukul 03.20an WIB, saat itulah aku beranikan untuk membangunkan beliau agar bisa sesegera mungkin untuk persiapan. Di samping tak lupa sholat sunnah beliau kerjakan. Dengan pembawaan tenang dan santainya, Alhamdulillah segala sesuatunya tetap dapat teratasi.
  Selepas sholat Subuh berjamaah di masjid Baitul Khair Bandung itu, tak lupa aku mengingatkan beliau untuk mengambil amplop di ruangan kantor sekolah. Untuk penyerahan uang mahar pada calon mempelai perempuan. Di samping replika (hiasan) mahar cantik yang sebelumnya telah dipersiapkan. Dan tak lupa kami lanjutkan persiapan untuk mengambil sebagian kue seserahan, di rumah salah seorang ustadzah tak jauh dari pasar Bandung.
  Kue dan jaddah. Yaa...makanan ini sepertinya memang tidak boleh terpisahkan untuk disajikan dan diserahkan menemani kue hantaran lainnya. Salah satu fungsinya sebagai simbol untuk lebih merekatkan sebuah hubungan seseorang. Selepas itu kami berdua segera bergegas kembali dan segera mempersiapkan diri.
  Agenda keberangkatan rombongan sudah direncanakan secara rapi, pukul 05.30an WIB semua harus sudah datang. Namun, bagaimanapun juga mengumpulkan banyak orang memang dapat kubilang mudah-mudah sulit. Sampai akhirnya, keberangkatan rombongan baru terlaksana di kisaran pukul 06.30an WIB. 
  Mengapa memilih waktu sepagi mungkin untuk berangkat ke tempat akad? Mengingat, jarak tempuh perjalanan yang cukup jauh. Bilamana dalam keadaan lengang, kurang lebih menghabiskan sekitar 2.5-3 jam perjalanan. Dari Bandung-Tulungagung, menuju Kandangan, Pare-Kediri.
  Berderet mobil rombongan segera melaju, dengan begitu semangatnya. Mobil rombongan pengantin laki-laki sudah melaju begitu kencangnya, sembari memburu waktu. Mobil rombonganku waktu itu berada di urutan kedua, atau ketiga, disamping masih ada rombongan mobil di belakangnya. Mau melaju lebih kencang, tapi kasihan rombongan yang di belakang. Tapi, segera berjibaku memburu waktu.
  Rombongan mobil iringan yang kutumpangi bertepatan belum ada satupun yang tahu secara pasti alamatnya. Mengingat, pada saat pelaksanaan prosesi khitbah kemarin bertepatan tidak ada yang ikut. Akhirnya, dengan bantuan "sharelok" dari calon pengantin pria saat telah sampai di area Simpang Lima Gumul Kediri aplikasi google mapsku mulai kuaktifkan. Sembari pelan-pelan membaca rambu jalan.
  Dari titik ini, untuk menuju ke lokasi akad sepertinya masih cukup lama. Setengah jaman lebih rasa-rasanya masih ada. Dengan bantuan maps dan hampir saja disesatkan, Alhamdulillah sekira pukul 09.00 WIB rombongan telah sampai. Disusul kedatangan petugas dari KUA, Kerabat. Dan akhirnya satu-persatu mobil rombongan di belakang juga sama-sama telah sampai.
  Tampaknya suadara laki-laki ku sudah bersiap dan sedikit di make up di dalam. Sembari kami menunggu. Sekira pukul 09.30an, dikarenakan para Petugas Pencatat Nikah telah sampai, Wali, Saksi, Kerabat, semuanya juga telah berkumpul di lokasi, akhirnya prosesi akad nikah segera dimulai.
  Tampak aura yang begitu berbeda, dan wajah yang berseri-seri. Akhirnya akad nikah dimulai dengan mengedepankan segala protokol kesehatan. Mengingat, pelaksanaan akad masih dalam suasana pandemi covid-19. Para petugas, wali, saksi, kerabat, kyai, segenap pengiring pengantin, semua tak lupa untuk tetap mengenakan masker. Namun, tak sedikitpun mengurangi kesan sakral kala itu.
  Aku dan kang Thohari, berusaha untuk menyelinap masuk dan mendekat untuk menyaksikan pelaksanaan akad. Namun, tampaknya ruang pelaksanaan akad sudah sangat sesak dan ramai. Akhirnya sebisa mungkin aku dan kang Thohari menyelinap di sisi para wali, saksi, dan para kyai. Awalnya beliau keberatan, karena dirasa kurang sopan. Namun, di sisi lain ada amanah penting yang harus tetap kami laksanakan. Untuk mengabadikan setiap moment dan kenangan penting pada saat pelaksanaan akad pernikahan.
  Untuk kelanjutan kisahnya, akan segera dimuat pada blog yang sama. Kira-kira bagaimana yaa???. Jangan lupa untuk senantiasa bersabar dalam menanti!
Sekian...

Tulungagung, 14 Agustus 2020.