(Doc. Pribadi)
Oleh: alfin arma
Kulihat waktu sudah mendekati pukul 04.00 pagi. Melepas ponsel dari charger, karena baterai sudah hampir penuh terisi. Lantunan salawat tarhim sudah mulai berkumandang di sana-sini. Tandanya Subuh sudah mulai masuk sebentar lagi. Suara kokok ayam juga mulai bersautan sedari tadi.
Menyempatkan sejenak waktu untuk membaca pesan grup WA yang sudah mulai bertumpuk. Entah untuk kurun waktu dekat atau sudah lama. Yang pasti, sebagian file yang dikirimkan dan coba kudownload sudah lagi tak bisa. Tandanya memang sudah cukup lama dikirimkan, dan bertumpuk dengan puluhan bahkan ratusan pesan. Belum lagi, pesan dari beberapa grup lainnya.
Karena telah memasuki waktu azan Subuh, untuk sementara waktu kujeda terlebih dahulu proses menulisnya. Dilanjutkan lagi nanti. Mumpung butiran-butiran ide cemerlang masih terus melintas secara jelas dalam ruang memori (otak) ini. Kuharap jangan lekas pergi.
Oke, kembali ke laptop. Eh.. ponsel maksudnya. Sudah sekitar pukul 04.40 pagi. Waktunya untuk melanjutkan tulisannya lagi. Kembali pada sedikit cerita tentang gagalnya saya mengunduh beberapa file buku (format pdf) karena telah termakan waktu. Agaknya memang sudah dikirimkan oleh salah seorang teman di grup alumni MTs beberapa bulan lalu. Pantas saja tak berhasil kudownload.
Padahal, membaca sepintas terkait judul dan melihat covernya begitu menarik hati. Mulai seputar buku tentang Fikih Perempuan, Sejarah (umum), Sejarah dan Kebudayaan Islam, beberapa novel, Tasawuf, Pendidikan Islam, Aliran KeAgamaan, dan masih banyak lainnya lagi. Hems, kenapa dulu sampai ketinggalan mengikuti pesan di grup alumni. Sungguh ironi.
Mungkin itulah yang dinamakan belum menjadi rezeki. Atau jalan lainnya adalah dengan menghubungi yang bersangkutan, seandainya berkenan minta tolong untuk dikirimkan kembali melalui pesan pribadi.
Lanjut menjelajahi grup lainnya lagi. Tampaknya dari salah satu grup tentang kepenulisan ada e-book menarik yang baru saja dikirimkan. Segera saja aku check dan download. Alhamdulillah, bisa. Karena melihat tanggal pada pesannya, masih minggu-minggu kemarin dikirimkan. Kalau sudah menjadi rezeki, ternyata benar ndak bakalan pergi.
Salah satu e-book yang berasal dari grup sharing kepenulisan ini, membahas seputar kiat mudah untuk menjadi seorang penulis (bagi pemula). Tepatnya berjudul, "5 Jurus Manis Agar Bisa Langsung Nulis." Kira-kira jurus apa saja itu ya???
Beberapa jurus penting yang telah dirangkum melalui e-book oleh tim Madani training & bang Zailani BQ, antara lain adalah sebagai berikut:
Jurus pertama, menulis terkait apa saja yang sedang dirasa. Entah itu tentang rasa bahagia, sedih, bingung, penat terhadap rutinitas keseharian, banyak pikiran, lagi blank (mentok), haru, atau pengalaman lain yang sedang dirasakan saat itu juga.
Mengapa hal itu menarik untuk dijadikan sebagai tulisan sebab, apa yang sedang terjadi atau dirasakan oleh seseorang adalah sebuah hal yang begitu istimewa dan luarbiasa. Sinetron ternama, atau film Box Office saja masih kalah dengan peristiwa yang sedang dialami oleh seseorang. Karena sinetron/film hanya sekadar settingan manusia. Akan tetapi realita yang sedang terjadi dan dialami adalah settingan resmi dari Pemilik Skenario yang Sejati (Allah SWT).
Oke lanjut ke jurus yang kedua. Jurus kedua ini lebih menekankan pada aspek pikiran atau perasaan seseorang. Jika ingin menjadi seorang penulis, baiknya tidak perlu terlalu takut atau mikirin soal segudang teori tentang kepenulisan terlebih dahulu. "Tulis dan Tuangkan saja." (M. Fauzil Adhim)
Soal bagaimana isi kalimat atau paragrafnya santai saja. Dipikir sambil jalan. Toh nanti juga masih ada waktu untuk proses editing. Sebelum dipublikasikan, bisa diedit terlebih dahulu. Jadi, ndak usah takut keliru. Masih ada waktu. Sebab, "Menulis itu tidak bisa sekali jadi." (Bunda Asma Nadia)
Menginjak jurus yang ketiga. Jurus ampuh untuk mengusir rasa malas menulis selanjutnya adalah, pelan-pelan tambah wawasan. Apa maksudnya. Maksud dari kalimat ini adalah saat seseorang telah mulai menulis, pelan-pelan sambil mengoreksi tulisan. Atau tahapan editing dan peninjauan ulang. Seandainya masih ada kata yang salah ketik, kurang tepat, atau tanda bacanya masih salah tempat, bisa perlahan dibenahi dan diganti. Sambil baca-baca lagi. Mungkin kata atau kalimat yang sekiranya lebih efektif yang seperti apa dan bagaimana. Perlahan, teori baru yang sekiranya benar dan tepat akan ditemukan dan diaplikasikan (dalam tulisan).
Masih banyak kata yang kurang baku, wajar-wajar saja adanya. Yang terpenting nulis dulu saja. Menulis, menulis, dan menulis. Jadinya bagaimana, entah nantinya. Yang terpenting menulis dulu saja.
3 jurus mudah sudah kujelaskan secara singkat di atas. Selanjutnya, jurus keempat. Bermula dari mutiara. Mutiara? Maksudnya, kalau pas menemukan kata-kata mutiara (quote) bisa dipakai untuk melengkapi tulisan yang sedang dibuat. Bisa dari diri sendiri, orang lain, ulama', kyai, guru, dosen, professor, ayat Al-Qur'an, ataupun Hadits. Dengan menukil dari sebagian kata-kata mutiara tadi, bisa lebih menambah kesan dan nilai dari tulisan yang sedang dibuat.
Sebagai salah satu contoh mudahnya, "Jika engkau mencari suatu kesempurnaan, maka sejatinya engkau tidaklah sedang mencari yang namanya cinta. Karena kemukjizatan cinta, terletak dalam kecintaan pada segala bentuk kekurangan." (Syamsi Tabrizi)
Secara mudahnya demikian. Pastilah kawan dan sobat semuanya punya kata-kata atau kalimat mutiara masing-masing.
Oke, sudah sampai pada jurus yang terakhir saja tampaknya. Jurus sakti kelima. Kembali mengingatkan, untuk diri sendiri juga lainnya. Bahwa, menulis itu sebenarnya mudah. Bahkan sangat mudah. Dan tidak perlu khawatir akan takut salah. Dalam jurus terakhir ini, kuncinya adalah menulis dengan mengambil kisah pribadi atau orang lain yang baru saja dialami. Sebab, kisah-kisah sebagaimana yang terjadi dan dialami sangat begitu luarbiasa dan bermakna. Mungkin terlihat sederhana dan receh menurut kita, tapi belum tentu sebaliknya untuk orang lain.
Dengan demikian, tak terasa bahwa kita telah berhasil membuat dan menyelesaikan sebuah tulisan. Jika hanya sekadar menjadi angan, rasanya sangat sulit untuk dapat tertuangkan. Makanya, tulis dan tuangkan saja. Selamat mencoba!!!
Tulungagung, 21 September 2020.


12 Comments
Kudapan malam yang renyah dan kriuk. Keren Alfin👍
ReplyDeleteTerima kasih Bu Nur Fadhilah. Mohon bimbingannya (untuk menjaga konsistensi).
DeleteTOP, jurusnya sakti sekali mas.
ReplyDeleteTerima kasih mas Woko atas kunjungannya.
DeleteTulisan yang renyah dan jurusnya sungguh josss
ReplyDeletehehe,
DeleteTerima kasih.
Mudah"an ada sedikit manfaatnya.
Keren, perlu segera saya aplikasikan.
ReplyDeleteHehe, selamat mencoba mbak Anis. Kalau di tangan njenengan jadinya pasti luarbiasa.
DeleteLuarbiasa fin,. Begitu ringan dan mengalir,.
ReplyDeletehehe, daripada hanya sekadar melamun, akhirnya saya tuangkan saja mas.
DeleteKe re en ... Iya jika kita melihat ke belakang maka dunia literasi telah dibudayakan oleh ulama sejak zaman dulu. Mereka saling mensyarahi, mengomentari bahkan mendebatkan atau saling beradu argumen. Karena memang dunia pemikiran tidak lepas dari literasi. Bahkan ulama sekaligus pejuang seperti pangeran Diponegoro pun selain berjuang dengan senjata dan pergerakan juga lewat tulisan. Ada babad Diponegoro dalam bahasa Jawa yang beliau tulis saat dalam pengasingan di Manado itu.
ReplyDeleteMenulis bukan saja mengembangkan bakat, hobi, pemikiran, impian, sampai finansial tapi juga mempertahankan budaya. Budaya pemikiran, budaya para ulama, dan budaya literasi itu sendiri.
Sedikit sebuah perenungan, bahwa dengan adanya budaya literasi maka mempertahankan pula bahasa itu sendiri sebagai sebuah alat komunikasi.
Contohnya adalah bahasa Indonesia yang notabenenya berasal dari rumpun bahasa Melayu yang yang mana tak lepas dari berbagai bahasa yaitu bahasa Arab, bahasa Portugis, bahasa Inggris, dan lainnya.
Ada sebuah pertanyaan mengapa bahasa Indonesia menjadi bahasa negara dan resmi negara Indonesia bukan bahasa Jawa yang penduduknya banyak diantara penduduk lainnya. Usut punya usut setelah melihat rangkaian sejarah ternyata saya lihat memang bahasa Indonesia itu bahasa yang dinamis dan berkembang. Ada budaya literasi yang mempertahankannya, majunya literasi baik dalam bentuk syair-syair, puisi, cerita, novel, dan karya sastra lainnya.
Jadi, sekarang kita tahu menulis mempunyai dasar yang fundamental sebagai warisan budaya ulama kita khususnya dan budaya bahasa pada umumnya. Mari bersama-sama membudayakan literasi ini agar mempertahankan bahasa sekaligus memperjuangkan budaya ulama.
Boleh dilihat tautan berikut, mungkin ada faidah di dalamnya.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214173141082274&id=1826397052
MasyaAllah, iya mas Iik benar sekali.
DeleteJadi dapat tambahan ilmu lagi.
Terima kasih.
Betapa sangat produktifnya ulama' pendahulu. Dengan segala bentuk karya" agungnya. Padahal berbanding terbalik dengan media, alat bantu (teknologi). Dengan berbagai ikhtiar dan do'a, akhirnya karya" yang begitu luarbiasa dan fenomenal dilahirkan.
Abadi sampai saat ini.