(Gambar Ilustrasi)
Sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7GqLjqmp52CoiQcnnBC8gqoH1DBM9S6AoQ8WnOfXbDZNLvBhRHN9MrP9Uy33MAASH4X8I-iVQ3bAevFS-GLKF5ZGPJo7AIahwSnVFRUVhR3QMvWsIR8_6U0bTCTinMU7KIpWzsfJ1Uoep/s320/tukang+cukur.gif
Oleh: alfin arma
Beberapa waktu yang lalu aku sempat terkejut, saat mendengar kabar dari salah satu tetangga. Kira-kira demikian, "Pak Aji tukang potong rambut Dlimosari semingguan dek ingi kae kabare meninggal. Ketoke mendadak, lha sak durunge yo ndak loro opo-opo lho. Yo jik nyukur uwong minggu-minggu dek ingi." Dalam bahasa Indonesia kira-kira demikian artinya: "Pak Aji tukang potong rambut yang rumahnya di Dlimosari sekitar satu mingguan kemarin meninggal dunia. Sepertinya mendadak, karena sebelumnya juga tidak sakit. Juga masih memotong rambut para pelanggannya minggu-minggu kemarin."
Bagaimana tidak terkejut. Tepat sekitar dua mingguan sebelum kepergiannya, aku dan keponakan juga masih sempat potong rambut di kediamannya. Satu mingguan sebelum kepergiannya, ayah juga masih sempat potong rambut di sana. Tepat di dusun Dlimosari Desa Padangan Kec. Ngantru Kab. Tulungagung. Begitu juga dalam kesempatan malam itu aku berbincang seputar keadaan covid-19 di Tulungagung, yang sepertinya perlahan sudah berangsur membaik. Sekolahan satu persatu juga sudah mulai diaktifkan kembali. Walau masih secara bergantian hari.
Sama sekali tak tampak wajah lelah, terlebih pucat sebagaimana orang sakit pada umumnya. Nada bicaranya pun juga masih tetap sama sebagaimana sebelum-sebelumnya. Tetap sabar, dan begitu halus dalam berbicara. Tak kalah dengan pembawaan halus seorang wanita sebagaimana umumnya.
Biasanya beliau mulai membuka tempat cukur sederhananya di kisaran pukul 08.00-12.00 WIB. Lalu buka kembali pukul 14.00-16.00 WIB. Dan biasanya kalau malam, setelah sholat maghrib sampai di kisaran pukul 21.00 WIB atau situasional. Seandainya sudah capek dan lumayan sepi, sekitar pukul 20.00 WIB beliau sudah tutup.
Kendati aku sendiri tidak melulu potong rambut di tempat beliau, tapi secara umum sejak aku masuk ke jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan duduk di bangku perkuliahan, rasanya secara umum selalu berkunjung ke sana. Selain karena tempat cukurnya yang sederhana, lebih terjangkau jika dibandingkan dengan tempat lain, dan yang paling aku suka karena sifat beliau yang begitu halus, sabar, juga ramah, pada setiap pelanggannya.
Tak perlu bilang ke beliau lagi, seperti biasa saat aku berkunjung ke tempat cukurnya, "Koyok biasane kan mas?." Kemudian aku saut, "Inggih pak." Dengan begitu telaten, beliau memainkan alat cukur otomatis, di samping gunting cukur dan sisir manualnya.
Sudah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun berlangganan di tempat cukur beliau. Dan pelanggan tetap beliau pun dapat dikatakan lintas generasi. Dari anak-anak kecil sampai manula. Tentu, sesuai permintaan dan style masing-masing. Kalau aku pribadi, biasa saja modelnya. Yang terpenting tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek. Karena sejak kecil sudah terbiasa dengan model cukuran sedang. Lebih-lebih saat sudah masuk jenjang kuliah, entah mengapa malah lebih suka dengan style rambut yang sedikit "gondrong". Tapi, masih sewajarnya. hehe..
Sosok tukang cukur, bagiku ia adalah sebagai salah satu sosok yang paling pemberani di dunia ini. Kepala orang lain saja berani ia pegang, bahkan sampai sekelas presiden pun. Bukan main. Dan apakah ada yang marah-marah juga karena perlakuannya? Bisa-bisa malah mahkotanya yang dicukur habis tak beraturan. hehe.. (bercanda)
Mana mungkin seseorang akan marah, karena jasa beliau sangat berharga bagi yang lainnya. Dan bagaimanapun permintaan, juga style rambut yang diinginkan, pastilah beliau selalu menyanggupi. Begitupun dengan pak Aji.
Rasanya memang begitu sulit untuk melupakan setiap jasa-jasanya. Terlebih mencari sosok tukang cukur pengganti yang memiliki sifat dan kepribadian sepertinya.
Belum terhitung 40 hari setelah kepergiannya. Rasanya, beliau masih tetap ada. Melakukan aktivitas potong rambut seperti biasa di kediamannya. Biasanya pula aku selalu berkunjung ke sana ba'dha maghrib atau isya'. Mencari kesempatan yang sudah sedikit sepi. Alih-alih sepi, ternyata di sana masih banyak dipadati pelanggan setianya. Entah anak-anak dengan orang tuanya, remaja, dewasa, bahkan juga manula. Semua berbaur menjadi satu. Tidak sebagaimana tempat cukur rambut lainnya. Yang terkadang hanya dipadati oleh sebagian kalangan saja.
Selamat jalan pak Aji. Kini engkau telah kembali. Menghadap pangkuan Sang Ilahi Rabbi. Semoga senantiasa mendapatkan sebaik-baiknya tempat kembali. Kiranya mohon izin, karena segelintir kisah tentang mu kutuangkan dalam sepenggal cerita ini. Bila ada salah dari segalanya, mohon dimaafkan. Dariku, secara pribadi. Surga tempatmu kembali.
Tulungagung, 03 September 2020.


6 Comments
Allahummaghfir lahu... Semoga husnul khotimah.
ReplyDeleteAmin Ya Rabb. Akhir" ini memang sering mendengar kabar kepergian seseorang secara mendadak. Terlepas dari masa pandemi (pagebluk), atau di sisi lain memang sudah digariskan demikian. Allahua'lam.
DeleteSudah ada yg menggantikannya beliau belum ?
ReplyDeleteBicara ttg tukang cukur, teringat sebuah bangunan kecil di pinggir jalan desa Melis dimana bangunan itu adalah tempat potong rambut. Sempat bilang dalam hati, jika saya bisa masuk kuliah maka akan kupasang sebuah tulisan "Buka-Tutup". Sebuah keterangan yang mungkin digantung di depan pintu bangunan potong rambut tersebut. Karena nampaknya belum ada. Sampai lulus kuliah sekarang, sayangnya niat baikku itu belum terlaksana. Astaghfirullah. Apakah itu nadzar ? Jika iya berarti saya masih menanggung utang dan jika tidak dilaksanakan maka berdosa.
Sementara waktu ini belum ada mas. Dan rasanya belum pengen buru" untuk potong rambut terlebih dahulu. Karena style yg sekarang ini adalah kenangan terakhir dari beliau.
DeleteTapi, saya jadi keingat waktu potong rambut di Sumbergempol dgn njenengan. Itupun sempat ada insiden kehilangan uang. Akhirnya, jadi njenengan yg bayar. hehe
Innalillahi wa Innailaihiroji'un... jika berbicara tentang sosok laki-lakinyg berperangi halus. Pasti aku langsung kepikiran yg menulis tulisan ini.
ReplyDeleteSepertinya, ini terlalu berlebihan. wkwkwk
DeleteDi balik sifat lemah, tegar, lembut, keras, banyak bicara, atau bahkan diam seribu makna. Di balik sifat itu pula, seseorang pasti diberikan sifat kebalikannya oleh Tuhan. Semoga, semuanya bijak dalam menempatkan.