Sumber foto: (https://beritagar.id/artikel-amp/telatah/literasi-digital)

Oleh: alfin arma
    Bahagia sekali rasanya saat mendengar kabar dari salah satu sahabat, dimana sekarang juga sedang menempuh pendidikan S-2 di Pascasarjana UIN Maliki Malang. Kebetulan juga sama-sama mengambil program studi hukum keluarga Islam.
    Bagiku beliau merupakan salah satu sosok sahabat yang hebat. Kendati jauh dari orangtua dan kerabat, tekadnya begitu bulat. Jauh rasanya apabila hanya sekadar dibandingkan dengan diriku. Sebab, tak setangguh dan sesemangat beliau. 
    Kendati sedikit jarang bertemu secara tatap muka semenjak meneruskan pendidikannya, sesekali komunikasi di antara kami berdua masih terwadahi melalui bantuan aplikasi whatsapp. Sekadar obrolan biasa melalui pesan chat, atau terkadang menanyakan kabar yang bersangkutan, juga dengan tugas kuliahnya.
    05 September 2020. Pukul masih menunjukkan waktu pagi. Dengan sedikit kaget saat membuka pesan whatsapp grup (WAG) kelas teman kuliah saat S-1 dulu, beliau mengirimkan sebuah tulisan yang begitu indah melalui laman blog pribadinya.  "Puisi Cinta Untuk Indonesia", judulnya.
    Dengan nada tulisan ciri khas darinya, setiap untaian kata dan kalimat tersusun dengan begitu rapi dan indah. Membentuk sebuah satu-kesatuan bait yang utuh di dalam puisi yang dibuatnya. Kecintaannya pada dunia filsafat Islam, juga turut serta mewarnai untaian kata dalam setiap bait puisinya.

(Untuk kelanjutan puisinya bisa diakses melalui laman, https://pdktpemikiran.blogspot.com/2020/09/puisi-cinta-untuk-indonesia.html?m=1)

    Sedikit membuatku tercengang, melalui pesannya di grup WA kelas: "Terok-terok mas alvin aku, nyuwun izin nggih motivatorku. Hihihi." Dalam benak, rasanya saya bukan seorang motivator. Lalu, motivasi apa yang sekiranya sudah pernah saya kasih ke beliau. Rasanya jarang ngasih motivasi juga. 
    Rupanya, mungkin dari salah satu atau beberapa tulisan receh yang pernah aku share ke beliau ada yang sedikit mengena, dan memotivasi. Niatan awalnya hanya sekadar ingin berbagi tulisan saja. Tapi, Alhamdulillah apabila ada yang mengena dan sedikit bermanfaat menurutnya.
    Akhirnya, beliau sama-sama ikut dan mencoba untuk membuat blog baru. Dan tepat pada hari itu sejarah mencatat, untuk kali pertama tulisan tentang "Puisi Cinta Untuk Indonesia", telah dipublikasikan melalui laman blog pribadi miliknya.
    Diam-diam, walaupun secara perlahan ternyata 'virus literasi' ini sudah mulai menginfeksi. Rasanya sangat bahagia sekali. Tulisan receh yang aku buat ternyata ada yang menggugah dan memotivasi.
    Di sisi lain, salah satu sahabat seniorku juga bilang kalau yang bersangkutan juga merasa tergugah dan tertantang. Itu artinya, satu korban lagi yang sudah ada indikasi terinfeksi virus yang sangat mematikan bernama literasi. Jika dibandingkan dengan covid-19 sendiri, rasanya juga tidak kalah mematikannya. Dan memiliki sifat infeksius berpuluh-puluh kali lipat, namun bernilai maslahat. 
    Sebenarnya beliau hanya sebatas merendah padaku. Bagaimana tidak. Tulisan indahnya sudah begitu banyak terpampang di blog pribadi miliknya. Aktif juga dalam hal pembuatan konten video Youtube. Sering juga ikut lomba menulis. Dan masih banyak prestasi lain yang sudah ditorehkan. Lebih-lebih, untuk saat ini sudah ada sosok pendamping yang senantiasa setia menemani. Sehidup-semati (istri). Pasti akan lebih bersemangat untuk menorehkan prestasi lainnya lagi.
    Dalam hal yang dapat dikatakan sudah jauh lebih akut menginfeksi berkenaan dengan 'virus literasi', di mana lagi jikalau salah satunya bukan di grup literasi bernama "SPK Tulungagung" ini. Grup yang secara langsung dibimbing, dimotivasi, oleh beliau Dr. Ngainun Naim, di samping sosok-sosok hebat lainnya yang tidak dapat aku sebutkan satu-persatu. Pada umumnya seluruh anggota grup "SPK Tulungagung", itu sendiri. Setiap masing-masing darinya memiliki ciri khas tulisan tersendiri.
    Tidak banyak perintah, namun secara langsung memberikan uswah. Tidak banyak basa-basi, namun secara langsung memberikan aksi. Kendati, statistik semangat berliterasi diriku secara pribadi masih bersifat fluktuatif hingga detik ini.
    Pada akhirnya, point penting yang dapat aku ambil di sini adalah, menulis tidak perlu menunggu kata nanti. Menulis tidak harus dengan sesuatu yang bersifat ilmiah. Mulai saja dengan sesuatu yang disukai dan bersifat mudah. Receh bagi kita, belum tentu demikian untuk orang lain. Seperti tidak bermanfaat bagi kita, namun bisa saja memiliki nilai manfaat bagi yang lainnya.
    Semoga ada sedikit pesan dan manfaat tersampaikan, dari sepenggal tulisan yang masih begitu banyak bertebaran salah kata/kalimat di sana-sini.


Tulungagung, 10 September 2020.