Perubahan Sebuah Nama

Oleh: Muhamad Iik Syaropah

Bersamaan dengan masuknya agama Islam di Nusantara lewat jalur perdagangan dan asimilasi budaya sehingga beberapa tahun kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam, kalender Hijriyah digunakan dan bahkan terjadinya akulturasi antara kalender Hijriyah dan kalender Jawa kuno (tahun Saka) yang dilakukan oleh Sultan Agung di Kesultanan Mataram dalam rangka penyebaran agama Islam dan mengokohkan pemerintahannya. Sehingga lahirlah kalender Jawa Islam. Nenek moyang kita dahulu telah lama menggunakan kalender Islam ini.

Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis memberikan pengaruh dan perubahan pada segi politik, sosial, budaya ke beberapa wilayah Nusantara. Termasuk dalam hal ini adalah masuknya penanggalan tahun Masehi yang pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Nusantara sangat besar. Walaupun tak sampai menggantikan penanggalan Hijriyah karena masih kuatnya pengaruh Islam saat itu yang mengakar di masyarakat. Kalender Islam ini tetap masih eksis dan digunakan terutama dalam hal keagamaan umat Islam saja. Seperti, tanggal 1 Muharram umat Islam merayakannya sebagai awal tahun baru Hijriyah, Rabi'ul Awal merayakan hari lahirnya Nabi Muhammad Shollallahu'alaihi wa sallam tepat tanggal 12, 27 Rajab Isra Mi'raj, bulan Sya'ban melaksanakan puasa sunnah Nisfu Sya'ban, Ramadhan (baca: Romadhon. red) melaksanakan kewajiban puasa Fardhu Ramadhan, kemudian bulan Syawal merayakan hari raya Idul Fitri dan bulan Dzulhijjah merayakan Idul Adha.

Bulan Hijriyah memiliki 29-30 hari dan di dalamnya ada tujuh hari setiap pekannya. Nama-nama hari itu masih digunakan. Diantara nama-nama hari dalam sepekan diantaranya adalah hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu. Nama-nama hari tersebut sesuai dengan nama pada aslinya. Sedangkan hari Ahad di masyarakat lebih dikenal dengan hari Minggu. Pergeseran nama dari Ahad ke Minggu sebagimana masuknya Portugis bersama bangsa Barat lainnya dengan membawa kalender Masehi membawa budaya keagamaan mereka sedikitnya mempengaruhi nama hari Ahad tersebut.

Dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Minggu berasal dari kata Domingo (bahasa Portugis) yang berarti hari Tuhan. Referensi lain menerangkan bahwa pada zaman Belanda ada seorang pemuka agama Kristen asal Portugis saat itu bernama Santo Dominggo. Ia disucikan oleh umat Kristen dan mengajak umat Kristen pada hari yang disebut Minggu itu untuk beribadah ke gereja. Orang-orang Kristen biasa beribadah pada hari yang dinamakan oleh mereka hari Minggu itu, dan aktifitas keseharian juga libur. Bersamaan dengan itu, pergeseran nama hari Ahad pun terjadi menjadi hari Minggu. Sehingga di masyarakat tertanam menyebut nama hari Minggu yang sebenarnya adalah hari Ahad. Di masyarakat sampai sekarang ini lebih mengenal dan menggunakan dengan nama hari Minggu dibanding hari Ahad kecuali sebagian dari umat Islam yang masih tetap menyebutnya hari Ahad yang sadar akan kebenaran dan masih menjaga tradisi sesuai dengan asalnya.

Penulis memaparkan tinjauan fakta sejarah demikian agar generasi umat Islam selanjutnya dapat mengetahui hakikat sesuatu dan dapat mengambil pelajaran serta upaya mengembalikan budaya dan jati diri bangsa. Walaupun hanya sekedar sebuah nama. Pepatah bilang apalah arti sebuah nama. Secara tersirat menggambarkan sebuah nama tidak berarti apa-apa namun bagi orang yang beriman nama adalah sebuah doa. Penyebutan nama hari pertama dengan nama hari "Ahad" selain pengembalian nama pada asalnya juga sebagai pengingat kita umat Islam pada namaNya al-Ahad (Yang Maha Esa). Hal ini akan memberikan dampak psikologis dan spiritual yang luar biasa bagi aspek tauhid umat Islam jika menghayati dan memahaminya. Oleh karena itu, mari kita sebut hari pertama itu Hari Ahad !

Jombang, 30 Dzulhijjah 1442 Hijriyah.