Momentum Emas Mengenalkan Bulan Hijriyah kepada Generasi Muda

Oleh: Muhammad Iik Syaropah

       Bulan Muharram, kita akan segera menyambutnya di tahun baru Islam ini, tahun baru 1443 Hijriyah. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang selalu disambut dengan penuh suka cita dan pernak-pernik yang mewah dengan berbagai acara dan simbol-sombol tahun baru yang bermunculan seperti terompet, petasan, topi dan pakaian warna-warni dan lain sebagainya. Tahun baru Hijriyah tidak terlalu gegap gempita seperti itu dalam penyambutan dan perayaannya.

Namun demikian bukan berarti tahun baru Islam yang dicetuskan untuk digunakan sebagai penanggalan Islam oleh Umar bin Khattab ini tidak ada perayaan sama sekali. Umat Islam sudah biasa menyambut dan merayakannya seperti dengan doa bersama, muhasabah diri, melaksanakan puasa Asyura pada tanggal kesepuluhnya dan bersedekah serta amal ibadah lainnya di bulan Muharram. Umat Islam memang seyogyanya merayakan tahun baru ini dan apapun perayaan itu harus memiliki makna dan manfaat serta bernilai ibadah. Bagi umat Islam tahun baru harus dimaknai sebagai titik awal untuk muhasabah diri dengan berniat ikhlas untuk menjalani kehidupan di dunia ini menuju kehidupan akhirat. Di dalamnya harus penuh dengan amal ibadah dan kebaikan, memancarkan makna kehidupan.

Bulan Hijriyah merupakan perhitungan kalender Qomariyah (kalender lunar) ini ada 12 bulan, diantaranya adalah Muharram, Safar, Rabi'ul Awal, Rabi'ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqo'dah, dan Dzulhijjah.

Sedikit dari umat Islam yang mengenal bulan-bulan yang didasarkan momentum hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah ini apalagi menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Terutama generasi muda tidak banyak yang mengenal nama-nama bulan Islam ini. Mereka ketika ditanya ulang tahunnya tanggal berapa, mereka pasti menjawab dengan menyebut nama bulan Masehi, seperti Januari, Pebruari, Maret dan seterusnya. Hal ini tak dapat disalahkan begitu saja. Sebagaimana kita tahu bangsa ini sudah lama dijajah. Sehingga penjajahan itu berdampak pada berbagai lini kehidupan. Termasuk dalam segi politik, sosial, tradisi, budaya dan bahkan sebuah perhitungan kalender setiap tahunnya. Kalender Masehi berdampak pada penggunaannya dalam aktifitas sehari-hari.

Kalender Masehi sendiri yang telah mempengaruhi sistem penanggalan negara kita saat ini. Sejarahnya berasal dari bangsa penjajah Barat dan bukan dari Islam saat itu. Kalender Masehi digunakan saat ini pada kegiatan bernegara, aktifitas keseharian masyarakat, kegiatan bidang-bidang kehidupan masyarakat dan lain sebagainya.

Sebenarnya bukan berarti kalender Masehi tidak layak digunakan oleh umat Islam karena mempunyai penanggalan sendiri. Kita harus bijak dalam menggunakan kedua kalender hasil dari dua peradaban yang berbeda itu. Hakikatnya merupakan anugerah dari Allah semata untuk memudahkan perhitungan waktu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Terlepas dari asal usul dan sejarahnya, ada hikmah di balik adanya dua macam sistem penanggalan besar itu. Disamping sebenarnya masih banyak sistem penanggalan di dunia yang ada. Kedua penggalan Syamsiyah dan Qomariyah ini merupakan yang terbesar di dunia yang masih eksis digunakan oleh masyarakat. Bukankah perbedaan itu rahmat. Nampaknya kedua kalender ini juga merupakan anugerah dan rahmat dari Allah itu sendiri yang Maha Pengatur waktu, Yang Menjadikan siang dan malam sebagai tanda-tanda kebesaranNya.

Allah telah menjelaskan dalam Al Quran surat Yaasiin ayat 38-40:

"dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui."

"Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua."

"Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."

Dari nash Al Quran tersebut terang bahwa memang matahari dan bulan merupakan wasilah bagi perhitungan penanggalan suatu kalender. Perputaran matahari menghasilkan perhitungan kalender yang disebut dengan penanggalan Syamsiyah yang lebih dikenal dengan nama kalender Masehi sedangkan perhitungan kalender dari perputaran bulan adalah sistem penanggalan Qomariyah yang disebut dengan kalender Hijriyah.

Hikmah kedua kalender Hijriyah dan Masehi itu dapat kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari adalah kalender Hijriyah digunakan oleh umat Islam sepenuhnya dalam bidang keagamaan dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah. Seperti puasa, hari raya 'idain, haji, membayar zakat yang ada haulnya, menghitung masa 'iddah bagi perempuan yang ditalak dan lain sebagainya. Sedangkan kalender Masehi dapat digunakan sehari-hari khususnya dalam bidang duniawi. Dengan demikian sebuah roda kehidupan dengan aktifitas ukhrowi dan duniawi berjalan secara bergandengan dengan penuh harmonis. Kenyataannya memang di Indonesia, penggunaan kedua kalender ini dapat berjalan berdampingan.

Walaupun demikian, kalender Hijriyah harus tetap dilestarikan dan digunakan. Diharapkan pula dapat digunakan dalam setiap aktifitas sehari-hari umat Islam. Setidaknya digunakan dalam kegiatan dan ibadah keagamaan. Salah satu upaya menjaga kalender Islam ini adalah mengenalkan kalender Hijriyah ini sejak dini kepada generasi muda umat Islam.

Dalam rangka menyambut dan merayakan tahun baru 1443  Hijriyah ini dan tahun-tahun selanjutnya setidaknya ada agenda yang harus dijalankan bagi umat Islam ke depannya. Tidak hanya sebatas perayaan semata, harinya tertanggal merah sebagai tanda libur nasional, bahkan dan ini jangan sampai terjadi, yaitu hanya menikmati hari liburnya sehingga berlalu begitu saja tanpa ada hal yang bermakna.

Agenda tahun baru Hijriyah yang penulis tawarkan diantaranya adalah muhasabah diri, mempersiapkan diri dan optimis dalam perubahan, menggunakan penanggalan Hijriyah ini dalam kehidupan sehari-hari dan tak kalah pentingnya agenda mengenalkan kalender Hijriyah ini sejak dini kepada generasi muda.

Muhasabah diri pada awal tahun merupakan suatu yang sangat penting. Dimana kita hidup di dalamnya berdampingan dengan waktu yang terus berputar. Umat Islam harus muhasabah diri setiap waktunya. Muhasabah berarti introspeksi diri dengan menimbang apa yang telah kita lakukan dan amalkan di dunia ini. Apakah banyak maksiat ataukah amal kebaikannya. Bagaimana hubungan kita dengan Allah, sesama manusia dan sekitarnya. Hal ini dilakukan agar dalam memulai tahun baru dan menjalaninya menjadi lebih baik lagi.

Perubahan merupakan suatu keniscayaan dalam hidup. Oleh karena itu kita harus memandang hidup ini ke depan dengan mempersiapkan diri dan penuh optimis. Tentunya usaha ini dibarengi dengan doa kepada Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu. Oleh karena itu sejatinya kita merayakan tahun baru ini dengan berdoa. Doa di dalamnya terdapat lafadz basmalah dan hamdalah. Sesuatu pekerjaan yang diawali dengan basmalah dan hamdalah maka akan membawa berkah. Karena sesungguhnya setiap pekerjaan dan amalan adalah sebuah anugerah dari Allah. Kita sambungkan anugerah dan rizki ini (amal dan perbuatan baik) kepada Allah dengan menyebut namaNya, yaitu dengan berdoa yang di dalamnya ada basmalah dan hamdalah.

Kemudian di tahun baru Hijriyah ini merupakan momentum yang tepat untuk kembali menggunakan kalender yang diambil dari hikmah hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah ini. Mau tidak mau umat Islam harus menjaganya karena merupakan aset peradaban Islam dan tentunya sangat penting dalam menggunakannya untuk menjalankan ibadah yang selalu berkaitan dengan bulan Hijriyah. Diharapkan pula tidak hanya dalam aspek keagamaan saja menggunakan kalender dari perhitungan perputaran bulan ini tetapi juga dalam aspek kegiatan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat.

Terakhir agenda yang mungkin terlewatkan namun sangat penting dalam rangka mengokohkan generasi muda dan memberikan asupan rasa cinta pada jati dirinya sebagai seorang muslim adalah mengenalkan kalender Hijriyah ini sejak dini kepada generasi muda.

Tahun baru Hijriyah kali ini harus menjadi momentum bagi para orang tua dan guru untuk mengenalkan kalender Islam ini kepada anak-anak.

Beberapa cara dalam rangka mengenalkan tahun Hijriyah adalah dengan memberikan pertanyaan. Bagi orang tua dan guru dengan sederhana bisa menanyakan kepada anak,

"Tanggal berapa puasa Ramadhan itu?" "Hari raya Idul Fitri tanggal berapa ya, nak?"

Anak bisa saja menjawab puasa tanggal 13 Mei dan hari raya Idul Fitri tanggal 13 April 2021. Penulis juga pernah mengalami mendapat jawaban seperti itu saat menanyakan pada anak-anak usia sekolah dasar. Hal ini tidak perlu geleng kepala atau bahkan marah. Kita bimbing mereka untuk mengenal bulan-bulan Islam ini dengan sabar dan sepenuh hati.

Selanjutnya jika anak sudah menjawab dengan jawaban apapun, dan mulai penasaran, ingin tahu atau bahkan masih acuh pun, kita sebagai orang tua bisa menjelaskan dengan menceritakan sejarah penanggalan Hijriyah itu kepada anak. Disini kita mulai mengenalkan dari sisi sejarahnya. Dengan demikian, menjadi titik awal bagi anak untuk tahu apa itu kalender Hijriyah.

Kemudian kenalkan pula nama-nama bulan Hijriyah itu kepada anak dan menjelaskan aktifitas ibadah apa saja di bulan-bulan Hijriyah itu.

Inti dari metode mengenalkan kepada anak-anak adalah dialog yang menyenangkan bagi mereka. Kemudian dalam kehidupan sehari-hari secara bertahap selalu mengarahkan dan mengingatkan dalam penggunaan tanggal Hijriyah. Sehingga anak-anak akan mengenal, mengetahui, dan terbiasa menggunakannya.

        Disamping mempersiapkan agenda penting di tahun baru 1443 Hijriyah itu, kita berharap umat Islam dan segenap komponen bangsa Indonesia muhasabah diri demi terwujudnya Indonesia yang aman, damai dan sejahtera, bersatu menghindari fitnah dan hoax yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa, bersama menjaga kesehatan lahir dan batin agar terhindar dari berbagai penyakit khususnya pandemi Covid-19 ini. Semoga pandemi yang berdampak pada institusi pendidikan ini segera berlalu. Sehingga segala aktifitas sehari-hari terutama dalam bidang pendidikan kembali normal dan sekolah bisa membuka diri untuk mengadakan kegiatan belajar dan mengajar (KBM) seperti sedia kala. Aamiin yaa Rabbal'aalamiin.

Jombang, 30 Dzulhijjah 1442 Hijriyah.