Tradisi Baritan: Antara Budaya, Agama dan Kenangan Bersama Keluarga

oleh : Mohammad Alfin

Indonesia dikenal sebagai negara yang begitu plural baik dalam hal tradisi, budaya, agama, suku, dan bahasa. Masing-masing daerah memiliki ciri khas dan keunikannya tersendiri. Dalam hal budaya sebagai salah satu contoh mudahnya. Tak perlu jauh-jauh, di sekitar kita tentu memiliki tradisi yang cukup unik dan menarik. Dimana jika dikembalikan semua itu tidak lepas dari sebuah filosofi tersendiri. Secara khusus pada masyarakat muslim di Jawa.

Menjelang pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram, atau orang Jawa lebih mengenal dengan Malam 1 Suro/Asyura, biasanya selalu diadakan serangkaian acara tertentu. Do’a bersama di akhir dan menyambut awal tahun baru, tolak bala’, atau mengadakan tradisi baritan di dekat perempatan atau pertigaan jalan.

Sejauh ini belum ada sumber secara jelas terkait dengan asal usul dan awal mula pelaksanaan Tradisi Baritan. Yang pasti tradisi ini dilaksanakan dan diyakini oleh sebagian besar masyarakat di berbagai daerah di Jawa sebagai media untuk tolak bala’ atau do’a bersama yang dilakukan dengan maksud dan tujuan agar senantiasa terhindar dari segala bencana dan musibah (Agus dan Dwi, 2014).

    Di daerah Pantai Utara masyarakat nelayan menyebut tradisi atau selamatan yang dilakukan dengan maksud tolak bala’ ini dengan menisbatkannya pada kalimat “Baritan” atau akronim dari “mbuBARake dhemIT lan seTAN,” yang memiliki arti membubarkan dhemit/jin dan setan. Akronim ini juga sebagaimana terdapat di kalangan masyarakat nelayan di daerah Jawa Timur. Atau dalam hal lain sebagaimana Tradisi Larung atau Sedekah Laut, dimana tujuan utama daripada itu semua adalah sebagai sarana memohon pada Yang Maha Kuasa agar senantiasa diberikan keselamatan saat melaut dan kelapangan rezeki (Galba, dkk., 2004).

Pendapat lainnya yang berasal dari kalangan masyarakat petani yang melakukan tradisi Baritan atau Selamatan dengan menisbatkan pada kalimat “buBAR ngaRIT,” yang artinya selamatan yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan menyabit rumput atau panen padi. Tak sedikit pula masyarakat yang hanya melaksanakan tradisi semata karena telah dilakukan secara turun-temurun, tanpa mengetahui makna atau arti di balik kata Baritan itu sendiri (Salamun, dkk., 2002).

Berbeda dengan di daerah Indramayu, dimana kata Baritan oleh sebagian besar masyarakat dinisbatkan pada kata “Buritan” atau istilah yang berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti waktu selepas maghrib dimana ditujukan pada waktu pelaksanaan selamatan atau Baritan itu sendiri (Galba, dkk., 2004). 

Tradisi Baritan memang tak lepas dari budaya masyarakat agraris dan pesisir, bedanya jika di kalangan masyarakat petani tradisi ini dilakukan dengan maksud untuk sedekah bumi, sedangkan dalam kalangan masyarakat nelayan tradisi ini ditujukan sebagai maksud sedekah laut. Tak ubahnya di daerah masyarakat di wilayah Jawa Tengah bagian barat, tradisi Baritan dilakukan sebagai sarana untuk menolak adanya hama atau serangan tikus pada lahan pertanian dan perkebunan mereka. Dimana Baritan berasal dari kata “Barit” yang berarti tikus (Salamun, dkk., 2002).

Terlepas dari sudut pandang sosial, ekonomi, budaya yang berbeda-beda, tradisi Baritan dalam sudut pandang agama penulis maknai sebagai sebuah tradisi dengan maksud untuk memohon dan memanjatkan rasa syukur seorang hamba pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Sebagai seorang makhluk yang begitu lemah, manusia menyadari segala bentuk kekurangan yang ada. Dan hanya pada-Nya lah tempat dimana untuk meminta, memohon pertolongan, perlindungan dari segala wabah, bencana, dan mara bahaya.

Sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah ayat 214, Allah SWT berfirman yang artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan beragam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya Pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Kemenag RI, 1971).

Momen dimana pandemi belum kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, selain ikhtiar untuk selalu menjaga kesehatan serta menerapkan protokol kesehatan ketat, ada faktor lain yang tak boleh dilupakan. Yakni, dengan semakin mendekatkan diri Pada Ilahi Rabbi dan terus memohon dan berdo’a tiada henti. Tak terkecuali dengan media Baritan semacam ini. Dengan catatan, tidak boleh lengah terlebih meremehkan adanya virus covid-19 di sekitar kita. Berhati-hati harus, terlalu ketakutan jangan. Jangan sampai dibalik terlalu takut dengan virus, akan tetapi Tuhan justru dilupakan.

Tradisi Baritan bagiku secara pribadi cukup menyimpan banyak kenangan, dengan alm. kakung, almh. mbah putri, mas, mbak, juga keluarga. Teringat masa dimana mbah menyuruhku untuk mencarikan janur, kala itu masih terdapat banyak pohon kelapa di pekarangan rumah. Atau daun pisang kepok untuk dijadikan takir sebagai wadah nasi dan lauk pelengkap lainnya. Sayangnya, kala disuruh membantu membuat takir selalu saja gagal dan tidak bisa serapi sebagaimana takir beliau atau buatan yang lainnya.

Yang cukup mudah, menurutku hanya pada saat menghiasi takir dengan janur saja. Atau membuatkan tutup nasi dan lauk dengan menggunakan daun pisang. Atau yang terakhir membantu menghabiskan nasi takir setelah do’a bersama selesai dipanjatkan. hehe...

Pada hakikatnya, momen di malam pergantian Tahun Baru Hijriah 1443 ini adalah sebuah momen yang sangat berharga untuk selalu bermuhasabah (introspeksi diri), terlebih di masa-masa pandemi yang belum kunjung henti. Muharram sebagai bulan yang memiliki berbagai keutamaan, awal dimulainya bulan dalam sistem penanggalan Kalender Islam. Dengan harapan dan semangat yang baru, semoga di bulan yang begitu mulia ini Allah lekas mengangkat segala bentuk wabah, bala’ dari bumi Indonesia, juga bumi kaum muslimin/muslimah, mukminin/mukminah di berbagai belahan dunia. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin...  

Kediri, 01 Muharram 1443 Hijriah.