oleh: alfin arma

    Judul- yang kupilih dan akan kutuangkan dalam secarik tulisan di bawah ini, terinspirasi dari salah satu whatsapp story teman kuliahku beberapa hari yang lalu, "Menumbuhkan Makanan Akan Membuat Seseorang Tidak Menyisakan Makanan."

     Kalimat tersebut diam-diam telah menyusup dan merasuk dalam ruang ingatanku. Singkat, namun sarat akan makna bagiku.

     Singkat saja, aku langsung teringat dengan sebuah peristiwa yang umum terjadi di tengah masyarakat. Saat hangout dengan teman, sahabat, ataupun kerabat di sebuah warung, cafe, atau mungkin restoran. Tentu, selain menyempatkan sejenak waktu untuk berujung temu melepas rindu, bertukar ilmu, tak mungkin terlepas dari minuman atau makanan untuk mengusir rasa lapar dan dahaga. Atau sebatas teman obrolan agar terasa lebih lengkap.

     Cukup dan dapat dikatakan sering terjadi. Seseorang dengan tidak sengaja, atau mungkin juga sebaliknya, menyisakan makanan yang telah dipesan sebelumnya. Karena obrolan dengan teman, sahabat, dan kerabat telah usai, atau mungkin pula karena agenda lainnya telah menanti.

     Segera meninggalkan tempat, dan buru-buru ke tempat tujuan selanjutnya adalah langkah yang mudah dan dinilai cukup praktis. Daripada harus membawa, membungkus terlebih dahulu sisa makanan yang ada di meja. Entah alasan karena tinggal sedikit, mungkin pula karena merasa gengsi dengan teman ngobrol sebelumnya tadi. Toh... nanti bisa beli lagi.

     Seringkali, dan bahkan umum terjadi dalam masyarakat. Bagi orang-orang yang mampu, mungkin sebagian sisa makanan tadi tidak ada artinya. Namun, bagi sebagian orang yang kelaparan dan sangat membutuhkan, sisa makanan tadi masih dinilai cukup bahkan sangat berharga. Untuk sebatas menghilangkan rasa lapar yang melanda, atau untuk hajat mempertahankan hidup.

     Di kalangan para elite, mungkin sudah menjadi gaya hidup dan trend tersendiri. Menyisakan sebagian makanan saat berkunjung ke cafe atau restoran, sudah menjadi hal yang lumrah. Tapi, pernahkah sejenak saja memikirkan dan membayangkan mereka yang masih hidup dalam kondisi garis kelaparan. Atau mereka, para petani dan buruh tani, yang harus jatuh bangun setiap hari.

     Di tengah terik mentari yang terus menyengat, dan membakar kulit. Mereka terus berjuang untuk mempertahankan hajat hidupnya. Untuk menghidupi dirinya sendiri, juga anak-isteri. Dari bertani, mereka berdikari.

     Sebagai salah satu hobbi yang tak dapat kupungkiri, bercocok-tanam menjadi hal yang sering kulakukan. Tidak terbesit sedikit niat agar segera meraih keuntungan dari hasilnya, melainkan hanya sebatas ingin menambah hijau dan semakin sejuk pekarangan di sekitar rumah. Hitung-hitung sedikit membantu upaya penghijauan lingkungan, dan sedekah oksigen untuk sesama (manusia, hayawan).

     Tak hanya itu, andaikata tumbuhan yang ditanam telah menghasilkan, buah misalnya. Selain dapat dinikmati, alami, fresh, hasil petik dari kebun sendiri, berbagi dengan sesama sepertinya akan menjadi hal yang terasa sangat manis. Bahkan, tidak kalah jauh manis dengan rasa buahnya. Kecuali, yang ditanam buah nanas atau mangga misalnya. Selain terasa manis, juga ada sedikit rasa masamnya. hehe

(Tanaman Nanas di Pekarangan Rumah).
(Setelah kurang lebih 10 bulan kemudian dari proses tanam)

(Tanaman Baby Alpukat di belakang rumah)


(Beberapa bulan kemudian setelah
 proses tanam)

     1001 manfaat bercocok-tanam. Sebagai salah satu atau duanya, adalah untuk mengisi waktu luang dan menghasilkan, selain itu juga dinilai mampu menghilangkan kejenuhan yang sedang dialami oleh seseorang. Salah tiganya, bercocok-tanam juga akan membuat seseorang berpikir berulang kali kembali, saat akan menyisakan makanan. Entah itu makanan yang dibeli, atau dimasaknya sendiri. Disamping banyak manfaat lainnya lagi. 

     Sebagaimana salah satu hadits yang masih cukup jelas kuingat, sebagai berikut:

  (Sumber: http://biasnoeha.blogspot.com/2016/01/islam-dan-lingkungan.html?m=1)

     Kandungan yang ada dalam hadits tersebut sarat akan makna. Menanam tumbuhan/pepohonan tidak hanya sebatas memberikan manfaat untuk diri sendiri, bahkan juga bernilai sedekah untuk sesama (manusia, hayawan). Lebih-lebih, jika tidak terlupa untuk selalu ikhlas dalam hal berbagi.

     Bercocok-tanam tidak memerlukan waktu yang lama, untuk memetik hasil darinya. Namun, tetap membutuhkan waktu dan proses atasnya. Tidak ada istilah instan, sama halnya dengan proses menulis (mudahnya kubilang). Kita memetik hasil tanaman kakek-nenek, orangtua kita sebelumnya. Selanjutnya, kita menanam untuk dipetik hasilnya oleh anak-cucu di kemudian hari. Begitupun seterusnya. Dengan demikian, memetik hasil dari sesuatu yang ditanam tidak membutuhkan waktu lama bukan?

     Sampai disini masih ada niatan, atau pikiran untuk tidak menghabiskan makanan lagi? Atau justru sebaliknya, tidak ingin mengulangi lagi kejadian yang sama untuk tidak menghabiskan makanan ataupun minuman yang dihidangkan. Memasak, membeli, mengambil makanan atau minuman yang dihidangkan oleh seseorang, atau tidak sama sekali. Andaikata hanya akan membuat tersisa, atau mungkin karena kurang selera.

Semoga bermanfaat...


Tulungagung, 27 Agustus 2020.