Oleh: alfin arma
Menjelang akhir tahun 2020 ini, bertepatan Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana IAIN Tulungagung menyelenggarakan Assesment Lapangan via daring. Mengingat, sekali lagi pandemi covid-19 belum kunjung henti. Persiapan untuk menyambut salah satu hajat prodi yang selama ini sudah cukup lama dinanti, telah dilakukan jauh-jauh hari. Bahkan, terhitung hampir satu tahunan persiapan itu telah dilakukan. Berharap di awal tahun 2020 dapat terselenggara, ternyata harapan itu masih sebatas wacana.
Kalau tidak salah, akhir tahun 2019 kerja tim borang Prodi HKI telah dimulai. Dari mengumpulkan, sampai mencetak semua berkas yang telah ada, sedikit demi sedikit sudah dilakukan. Orang Jawa bilang: "Ben ndak kedandapan pas wayahe wes teko". Apalagi mengingat program awal (visitasi) adalah secara langsung di lapangan, mau tidak mau semua berkas hardcopy harus sudah ada saat hari H pelaksanaan akreditasi nanti.
7 standart. Ya, karena masih mengikuti pedoman yang lama, maka sesuai standart yang ada tim kerja borang dibagi sesuai dengan keahlian dan poin-poin yang sekiranya memang dikuasai. Dari rencana awal, secara pribadi saya dan tim mendapatkan bagian untuk mempersiapkan data yang dibutuhkan pada masing-masing titik standart 7 ini. Di sisi lain, karena tim pada saat itu masih cukup banyak jumlahnya, masing-masing standart masih dapat dihandle oleh beberapa orang dalam satu tim. Setidaknya agar tidak merasa kelabakan.
Bulan November kemarin, setelah sekian lama vakum dari kegiatan persiapan data akreditasi lapangan pada akhirnya ada instruksi kembali dari ketua Prodi HKI (Dr. Iffatin Nur, M.Ag.) dan Sekprodi (Syamsul Umam, M.H.I.) untuk segera mempersiapkan data" kembali dalam bentuk soft file karena visitasi akan segera dilaksanakan kendati harus berubah total dari rencana awal sebelumnya. Dari bersifat langsung di lapangan, harus digantikan dengan sistem penilaian di dalam jaringan. Mudah-mudahan jaringan internet kampus tidak tersendat pada saat pelaksanaan visitasi nanti.
Tidak hanya berhenti sampai di sini. Satu minggu menjelang akreditasi, kerja tim harus ditingkatkan dan dikompakkan. Besar harapan tidak akan terjadi misc understanding dalam setiap tahap demi tahapan. Karena tim kerja cukup drastis berkurang. Karena dalam suasana pandemi, sebagian juga sedang di kampung halaman masing-masing yang cukup jauh dari kampus IAIN Tulungagung, atau bahkan di luar wilayah Mataraman. Belum lagi apabila wilayah masing-masing kota dalam zona yang berbahaya akibat corona. Dari awalnya memiliki partner dalam mengerjakan satu standart, justru kali ini harus menghandle beberapa standart. Atau lebih mudahnya kami menyebut, "Kerja Keroyokan". Seandainya ada yang dibutuhkan dari masing-masing standart dan bisa membantu menghandle, maka akan dilakukan secara bersama-sama. Dengan niatan, agar semua berkas lekas terkumpul dan dapat segera dilaporkan. Antara optimis, dan optimis.
Walau memang terasa sedikit berat, tapi tetap kuyakinkan pada diri sendiri dan juga rekan-rekan dalam tim kerja untuk selalu optimis bahwa kita semua bisa. Kendati dengan jumlah tim yang sedikit, yang terpenting tetap solid, InsyaAllah semua akan selesai tepat pada waktunya. Saat kerja tim sedikit kendor, tentu butuh semangat dan penyemangat tambahan. Gurauan, candaan, harus sering-seringnya dilontarkan. Biarkan seperti orang yang 'halu', karena semua itu adalah sebagai salah satu cara untuk memecah suasana.
Tampaknya, alampun juga ikut serta dalam memberikan support kepada tim kerja ini. Beberapa hari menjelang akreditasi, yang sebelumnya tampak mendung, gerimis, beberapa hari berubah menjadi cerah dan pada saat sore hari selalu menyuguhkan pemandangan alam yang begitu tampak indahnya. Seakan secara langsung menyapa. Memberikan semangat tambahan. Dan ada beberapa pesan-pesan penting yang tampaknya memang sedang disampaikan. Ku yakin, bahkan haqqul yaqin, bahwa ada isyarat dan kabar kebahagiaan yang akan segera kami dengarkan.
Hanya sekadar usaha, hanya sekadar lantunan-lantunan do'a. Tidak ada sama sekali yang tau secara pasti tentang apa yang akan terjadi nanti. Puncak dari segala persiapan, perjuangan, serta do'a selama ini, akan ditentukan pada 2 hari penilaian (akreditasi). Selasa-Rabu, 22-23 Desember 2020, tim Asesor tengah menilai dan menguji. Asesor 1, beliau Bapak Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A., yang berasal dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Serta beliau, Ibu Dr. Erina Pane, S.H., M.Hum., yang berasal dari UIN Raden Intan Lampung selaku tim Asesor 2.
Hari ini adalah puncaknya, 23 Desember 2020. Pelaksanaan visitasi prodi HKI telah selesai dilakukan pada kisaran pukul 9an pagi. Pada akhirnya, setelah usaha dilakukan, do'a dipanjatkan, "Biarkan Do'a dan Takdir yang Bertarung di Ujung Langit". (Dr. Iffatin Nur, M.Ag., selaku ketua Prodi HKI Pascasarjana IAIN Tulungagung) Atau versiku sendiri, "Biarkanlah Do'a dan Takdir yang Akan Berkompromi Nanti". Sebab, Tuhan Maha Tau atas apa yang terbaik untuk masing-masing hamba-Nya. Niatan yang baik, ikhtiar, do'a, serta tawakkal, akan membuahkan hasil yang manis nanti. InsyaAllah, tidak ada satupun usaha, do'a, yang sia-sia apabila memang lillah karena-Nya.
Tulungagung, 22-23 Desember 2020.


5 Comments
Subhanallah...bacanya merinding seakan ikut serta dalam perjuangannya saudara..., Ya, memang benar proses tidak akan mengkhianati hasil, di ending acara pastinyaaa akan ada sesuatu yang tidak habis fikir ternyata begitu panjang penantian dan proses yang berliku liku ..hm..
ReplyDeleteTim yg sangat kompak.
DeleteSelamat berjuang untuk tugas kedepan rekan" semuanya.
Dan selamat menyambut kedatangan borang kembali sobat.
Deletehehe
Kereeen👍👍 terimakasih sudah berjuang "gila-gila-an" beberapa minggu belakangan ini😀😀
ReplyDeleteSudah siap dengan agenda visitasi selanjutnya? hehe...
Delete