(Foto Keluarga Sahabat Pena Kita)


 

Ada banyak jalan menuju Roma

Ada banyak jalan dari Tulungagung menuju UNUSIDA

Ada banyak jalan merubah mimpi menjadi nyata

Jalan Utamanya ialah Ikhtiar dan Doa

 


Kopdar ke-8 Sahabat Pena Kita yang berlangsung di kampus II lantai 5 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo ini merupakan momentum pertama kalinya saya ikut bergabung secara langsung di dalamnya. 26-27 Februari 2022. Dengan acara utamanya yakni Seminar Literasi Nasional yang mengangkat tema: “Alih Wahana Novel dan Pemasarannya” yang dihadiri secara langsung oleh Pembina Sahabat Pena Kita beliau Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I. Kemudian Dr. M. Arfan Mu’ammar, M.Pd.I. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Dr. Ng. Tirto Adi MP, M.Pd. Rektor UNUSIDA Dr. Fatkul Anam, M.Pd. yang diwakili oleh Wakil Rektor 2. Serta 2 narasumber utama Seminar Literasi Nasional yakni, Ir. Kirana Kejora yang merupakan seorang writerpreneur, film producer, best selling novelis, dan Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. selaku sastrawan, budayawan, sekaligus merupakan seorang Dosen UNIPA Surabaya.

Momen Kopdar yang berlangsung kali ini, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. M. Arfan Mu’ammar, M.Pd.I. selaku Ketua Sahabat Pena Kita merupakan sebuah acara rutin 6 bulan sekali yang diselenggarakan oleh Sahabat Pena Kita. Juga merupakan momen untuk mengembalikan esensi daripada Kopi Darat yang sebenarnya, di mana selama masa pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia ini berubah makna menjadi “Kopi Daring”.

Pelaksanaan Kopdar pertama pasca puncak pandemi ini, juga ditandai dengan Launching 6 Buku Antologi Karya Sahabat Pena Kita, termasuk di dalamnya Buku Antologi yang berjudul “Jalan Terjal Menulis Buku” karya Sahabat Pena Kita Tulungagung. Launching kali ini dilakukan secara langsung oleh Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I. Di balik sosok akademisnya ternyata beliau juga menyimpan jiwa humoris. hehe... Bercanda Prof. Seperti saya ini, terlihat begitu pendiam tapi sebenarnya juga suka bercanda. Biar ndak cepet tua, yaa kaannn...

Seminar Literasi Nasional yang menghadirkan 2 pembicara utama sebagaimana saya sebut sebelumnya. Dimoderatori secara langsung oleh mbak Yulia Pratitis Yusuf, M.Pd. yang merupakan anggota Sahabat Pena Kita, Novelis sekaligus Guru Madrasah Berprestasi Nasional. Acara seminar yang berakhir sekitar pukul 12.30 WIB ini, mengupas tuntas seputar Karya Sastra secara khusus terkait dengan dunia pernovelan. Yang menjadikan saya heran sebelumnya adalah mengapa Ir. Kirana Kejora menjadi seorang novelis, film producer, di balik sosoknya sebagai seorang insinyur yang banyak berkecimpung di dunia kelautan. Apa mungkin karena ia tidak ingin perjalanan dan pengalaman yang begitu berharga dalam hidupnya terlewat dan hilang begitu saja, hingga akhirnya jalan menulis adalah sebagai media utama untuk mengabadikan seluruh kisah hidupnya.

Berbeda dengan Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. yang merupakan seorang sastrawan dan budayawan murni, di mana setiap ilmu dan pengalaman penting senantiasa ditularkan pada mahasiswa/i nya karena beliau juga seorang dosen. Memang agak aneh sebenarnya. Mbak Kirana yang berlatarbelakang insinyur tapi kog kesasar di dunia film dan pernovelan. Bagi yang kelewatan acaranya mungkin bisa menyimak kembali dalam laman youtube ini, https://www.youtube.com/watch?v=I2ZwZsgEb9M&feature=youtu.be. Karena dalam tulisan ini saya begitu menyadari tak akan mungkin dapat menceritakan dan membagikannya secara detail dari awal hingga akhir acara.

Karya novel ternama mbak Kirana banyak mengangkat kisah seputar romansa, keluarga dan selalu menjadi best seller. Artinya, background apapun sebenarnya mampu untuk menjadi seorang penulis. Entah itu puisi, novel, cerpen, artikel, maupun karya tulis lainnya. Selain itu, bagi beliau menulis adalah sebuah pekerjaan yang begitu luarbiasa. Tidak mudah memang, semua tetap butuh proses yang cukup panjang. Tapi, menulis bukan sekadar menulis. Akan tetapi writerpreneur. Dari dunia menulis beliau dapat meraup keuntungan yang cukup bahkan begitu besar. Kendati beliau selalu menekankan bahwa, hasil daripada menulis adalah sebuah bonus manis tersendiri dari menulis.

Hal senada pun juga ditekankan oleh Dr. Shoim, bahwa untuk menjadi penulis itu membutuhkan sebuah proses yang panjang dan berkelanjutan. Hal-hal kecil dan sederhana juga senantiasa beliau terapkan pada mahasiswa/i nya. Misalnya dalam hal tugas-tugas kuliah seperti mengcover album lagu atau visualisasi lagu. Karena di era ini perkembangan dan kemajuan dunia teknologi menyumbang dampak yang cukup signifikan. Dari gadget kita dapat melihat dan membuat apapun yang kita inginkan. Seseorang dengan mudahnya dapat berkreasi dan berinovasi dengan bantuan kecanggihan teknologi dewasa ini.

Untuk menjadi seorang penulis yang sukses, writerpreneur utamanya, mbak Kirana juga tidak bosan-bosannya menekankan bahwa dibutuhkan suatu tekad yang kuat dari seseorang. Jangan malu-malu untuk melakukan personal branding. Manfaatkan media sosial untuk mempromosikan setiap karya kita dengan sebaik mungkin. Dari situ seseorang dapat mengenalinya. Karena menjadi seorang writerpreneur baginya bukan soal hanya berhasil dalam menjual seluruh buku atau karyanya, melainkan terbaca dengan baiknya sebuah karya oleh setiap penikmatnya.

Bagi Dr. Shoim menjadi seorang penulis besar adalah berangkat dan berproses dari sesuatu yang bersifat kecil dan sederhana. Media alih wahana karya pun juga dapat dilakukan dengan berbagai bantuan aplikasi baik di laptop maupun ponsel pintar. Pesan penting yang juga sering disampaikan oleh Prof. Ngainun Naim bahwa, “Menulis adalah sebuah proses yang begitu panjang dan berkelanjutan.”

Tak jauh-jauh saya menceritakan, ada salah seorang sahabat kuliah yang begitu produktif dalam berkarya. Namun, yang saya lihat dan amati setiap akan melaksanakan perkuliahan atau di saat jam-jam kosong, hanya buku atau jurnal-jurnal saja yang selalu dipantengi. Sambil membaca, sambil menulis. Begitu saja yang sering beliau lakukan. Baik kondisi ruangan kelas masih sepi, maupun sedikit gaduh karena obrolan teman-teman. Tapi, beliau tetap fokus menghadap laptop dan menulis. Sungguh luarbiasa.

Memang ada mereka yang tetap mampu membaca dan menulis dalam keadaan ramai, bahkan sambil mendengarkan lagu. Ada mereka yang senang menulis sambil ngopi atau ngemil. Ada juga mereka yang hanya bisa menulis saat seorang diri. Beranekaragam memang. 

Sebuah keyakinan penting bahwa setiap orang mampu menghasilkan sebuah karya. Setiap orang mampu menghasilkan tulisan. Jika yang lain mampu seharusnya kita juga mampu. Dan yang paling penting bahwa setiap proses akan mejadikan seseorang jauh lebih sukses. Sebuah pesan penting sekaligus sebagai penutup dalam tulisan ini bahwa, “Jangan sekali-kali menyakiti hati seorang penulis, jika tak mau nama mu abadi dalam setiap karyanya.” Waspadalah!!! hehehe...

 

Sidoarjo-Tulungagung, 28 Februari 2022.